Kawasan pusat perbelanjaan Blok M yang kembali menggeliat turut memunculkan ragam pilihan kuliner, termasuk sajian khas lokal. Salah satunya adalah Kedai Mie Kangkung Kite yang menyajikan mie kangkung—kuliner hasil akulturasi China dan Betawi—dengan konsep halal.
Kedai ini berlokasi di terowongan Blok M Hub. Pengunjung dapat mencapainya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari jembatan pusat Blok M Hub. Posisinya berada tepat di bawah tangga menuju terowongan yang sebelumnya dikenal sebagai Blok M Mall. Titik koordinat lokasi tercatat di -6.24365, 106.80121.
Mie Kangkung Kite mulai beroperasi pada Juni 2024. Meski terbilang baru di Blok M, racikan mie kangkung yang disajikan disebut berasal dari dapur rumahan yang telah berusia lebih dari 20 tahun. Rico Tungadi, pemilik Mie Kangkung Kite, mengatakan ia dan rekannya membuka kedai dengan harapan mie kangkung dapat dikenal lebih luas dan dinikmati berbagai kalangan.
Menurut Rico, selama ini mie kangkung kerap ditemui dalam versi non-halal dan dijual dalam skala rumahan atau melalui gerobak keliling. “Makanya, Mie Kangkung Kite konsepnya halal. Kami pakai daging ayam, sehingga bisa dinikmati semua kalangan,” ujarnya.
Dari sisi tampilan, kedai ini mengusung nuansa Betawi tempo doeloe. Bagian depan gerai dibuat menyerupai rumah zaman dulu dengan ornamen seperti lampu-lampu jadul. Ruangan tidak menggunakan AC dan mengandalkan kipas angin. Peralatan saji seperti piring, mangkuk, dan gelas bercorak blurik. Di dalam tersedia dua meja panjang yang bisa menampung sekitar 24 pengunjung, serta tiga meja di teras yang masing-masing cukup untuk 2–4 orang. Alunan musik khas Betawi turut mengiringi suasana.
Menu utama yang ditawarkan adalah mie kangkung dengan pilihan porsi sedang atau gede. Sekitar 10 menit setelah dipesan, semangkuk mie berkuah kecokelatan disajikan hangat. Isinya mie kuning, kangkung, tauge, daging ayam cincang, serta taburan bawang goreng. Pengunjung juga dapat menambahkan perasan jeruk limau dan sambal.
Rico menjelaskan, salah satu pembeda kuah mie di kedainya adalah tidak menggunakan tepung pengental. Karena itu, kuah disebut cenderung bening namun kaya kaldu dari daging ayam dan ebi. Daging ayam dan ebi dimarinasi lalu dimasak selama empat jam agar menghasilkan rasa manis dan gurih alami, dengan tambahan gula merah, garam, dan kecap yang tidak dominan. Rico juga menyebut penggunaan ebi kualitas premium bertujuan menghindari bau amis.
Formula kaldu tersebut merupakan racikan keluarga Stefanus, rekan sekaligus co-owner Mie Kangkung Kite. Ibunda Stefanus meracik dan menjual mie kangkung skala rumahan di Sunter, Jakarta Utara, sejak 2002, sebelum kemudian dibawa menjadi menu andalan di kedai ini.
Dari sisi bahan, Rico mengaku mempertimbangkan aspek kesehatan konsumen. Ia menyebut mie kuning yang digunakan dibuat tanpa tambahan air abu, bahan yang kerap dipakai untuk memberi tekstur kenyal pada mie. Selain itu, ia menekankan penggunaan bahan berkualitas, termasuk sayur. Kangkung dipilih agar tetap tampak hijau segar dan tidak alot saat disajikan. Porsi juga dibuat melimpah, dengan konsekuensi harga yang relatif premium.
Selain mie kangkung, tersedia menu pendamping seperti siomai dan bakpao dengan isian daging ayam cincang atau kacang ijo. Harga side dish berkisar Rp 10.000–Rp 12.500 per buah. Sementara mie kangkung dibanderol Rp 45.000 untuk porsi sedang dan Rp 55.000 untuk porsi gede. Pilihan minuman tersedia mulai dari teh hingga soda dengan harga Rp 10.000–Rp 20.000 per gelas.
Kedai Mie Kangkung Kite buka setiap hari pukul 10.00 hingga 21.30. Pada hari kerja, penjualan disebut berkisar 100–150 porsi per hari, dan meningkat pada akhir pekan menjadi sekitar 150–200 porsi per hari.

