Mi instan kerap dipandang negatif di Indonesia bila dikonsumsi terlalu sering. Makanan ini tidak jarang dikaitkan dengan berbagai kekhawatiran kesehatan, sekaligus dilekatkan pada citra sebagai menu “tanggal tua” yang dianggap minim gizi.
Di sisi lain, situasi berbeda terlihat di Jepang dan Korea Selatan. Ramen instan atau ramyun menjadi bagian dari menu harian masyarakat dari beragam kelompok sosial, tanpa memicu kepanikan luas terkait dampaknya bagi kesehatan. Perbedaan persepsi ini dinilai tidak semata-mata ditentukan oleh produk mi instannya, melainkan oleh kebiasaan dan ekosistem konsumsi yang menyertainya.
Perbedaan standar nutrisi dan kandungan natrium
Salah satu faktor yang kerap disorot adalah perbedaan regulasi dan standar pangan di tiap negara. Mi instan di Jepang dan Korea Selatan disebut umumnya diproses dengan pembatasan sodium (garam) yang ketat dari pemerintah setempat, meski porsi yang disajikan bisa tergolong besar.
Sementara itu, mi instan di Indonesia dinilai sering memiliki kandungan natrium yang lebih tinggi. Bumbu diracik untuk menyesuaikan selera lokal yang menyukai rasa gurih kuat dan tajam.
Budaya topping dan pola makan pendamping
Perbedaan lain terlihat pada cara penyajian. Di Indonesia, mi instan kerap dikonsumsi bersama nasi putih, yang membuat asupan karbohidrat menjadi berlipat tanpa selalu disertai tambahan nutrisi lain.
Sebaliknya, masyarakat Jepang dan Korea Selatan disebut cenderung menambahkan beragam topping saat menyantap mi instan. Tambahan seperti telur, irisan daging, seafood, rumput laut, kimchi, daun bawang, hingga sayuran segar membuat komposisi makan lebih beragam dan dinilai membantu menyeimbangkan asupan makronutrisi.
Gaya hidup dan aktivitas fisik
Faktor berikutnya adalah tingkat aktivitas fisik harian. Warga perkotaan di Jepang dan Korea Selatan memiliki kebiasaan berjalan kaki yang tinggi dan banyak menggunakan transportasi umum, yang menuntut aktivitas seperti berjalan dan naik-turun tangga di stasiun. Rutinitas ini dianggap membantu membakar kalori dan mengurangi dampak dari asupan natrium.
Di Indonesia, sebagian besar masyarakat masih bergantung pada kendaraan bermotor untuk mobilitas sehari-hari. Kondisi ini membuat pembakaran kalori dinilai lebih minim dibandingkan pola aktivitas di dua negara tersebut.
Dengan demikian, mi instan dinilai bukan satu-satunya faktor yang patut disalahkan dalam persoalan kesehatan. Kebiasaan kurang bergerak serta pola makan yang menumpuk karbohidrat tanpa diimbangi serat dan protein disebut lebih berperan membuat konsumsi mi instan di Indonesia terasa kurang ramah bagi kesehatan.

