BERITA TERKINI
Menuju Zero Hunger 2030: Harga Pangan, Iklim, dan Akses Gizi Jadi Tantangan Ketahanan Pangan

Menuju Zero Hunger 2030: Harga Pangan, Iklim, dan Akses Gizi Jadi Tantangan Ketahanan Pangan

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda. Namun, di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, serta ketidakstabilan rantai pasok, pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat kian kompleks. Kenaikan harga bahan pokok dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan dengan daya beli terbatas. Situasi ini memunculkan pertanyaan: di tengah harga yang terus meningkat dan akses pangan yang terbatas, seberapa mungkin target Zero Hunger atau tanpa kelaparan dapat tercapai?

Zero Hunger adalah bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs), tepatnya SDG 2, dengan target mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi, dan mendorong pertanian berkelanjutan pada 2030. Target ini tidak hanya menekankan ketersediaan makanan, tetapi juga memastikan setiap individu memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak hambatan yang harus diatasi.

Salah satu tantangan terbesar adalah kenaikan dan fluktuasi harga pangan. Perubahan harga beras, minyak goreng, telur, daging, cabai, dan bahan pokok lain dapat langsung memengaruhi kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Ketika harga meningkat, masyarakat berpenghasilan rendah kerap terpaksa menyesuaikan pola konsumsi, mulai dari mengurangi porsi makan, menurunkan kualitas konsumsi, hingga mengganti makanan bergizi dengan pilihan yang lebih murah namun kurang bernutrisi. Kondisi ini berisiko memperburuk masalah malnutrisi, stunting pada anak, anemia, serta gangguan kesehatan lain yang terkait kekurangan asupan gizi seimbang.

Selain faktor ekonomi, perubahan iklim dan gangguan produksi pangan turut menekan ketahanan pangan. Cuaca ekstrem, musim yang tidak menentu, kekeringan, banjir, hingga gangguan ekosistem pertanian dapat menurunkan hasil panen dan memengaruhi stabilitas pasokan. Ketika produksi menurun sementara permintaan meningkat, harga menjadi semakin sulit dikendalikan. Hal ini menunjukkan persoalan pangan tidak semata isu pertanian, melainkan terkait erat dengan kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, dan kebijakan publik.

Di tingkat rumah tangga, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pangan, tetapi juga kemampuan keluarga untuk mengakses makanan bergizi secara konsisten. Banyak keluarga menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lain seperti pendidikan, transportasi, maupun kesehatan. Dalam kondisi tertentu, masyarakat mungkin masih dapat makan tiga kali sehari, tetapi kualitas nutrisinya belum tentu mencukupi. Karena itu, persoalan kelaparan tidak selalu tampak sebagai kekurangan makanan yang ekstrem, melainkan juga dalam bentuk hidden hunger atau kelaparan tersembunyi akibat kekurangan zat gizi penting.

Meski tantangannya besar, upaya menuju Zero Hunger dinilai tetap memungkinkan melalui langkah bersama lintas sektor. Pemerintah disebut berperan penting dalam menjaga stabilitas harga, memperkuat cadangan pangan, mendukung petani lokal, serta memastikan distribusi pangan merata. Di sisi lain, inovasi pertanian—mulai dari pemanfaatan teknologi, urban farming, diversifikasi pangan lokal, hingga peningkatan efisiensi rantai distribusi—dapat membantu menjawab tantangan ketersediaan pangan.

Peran masyarakat juga dinilai penting, antara lain dengan mengurangi pemborosan makanan (food waste), memanfaatkan pangan lokal, serta meningkatkan kesadaran terhadap pola makan sehat dan bergizi seimbang. Ketahanan pangan dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata urusan pemerintah atau sektor pertanian.

Isu pangan juga berkaitan dengan target SDGs lain, seperti SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan karena akses pangan bergizi memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat, serta SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan mengingat kemiskinan menjadi salah satu akar utama keterbatasan akses pangan. Dengan demikian, keberhasilan mencapai Zero Hunger bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera.

Pertanyaan apakah Zero Hunger dapat tercapai belum memiliki jawaban pasti. Namun, satu hal yang ditekankan adalah target tersebut membutuhkan komitmen bersama agar setiap orang memiliki akses terhadap pangan yang layak. Pangan bukan sekadar kebutuhan harian, melainkan fondasi bagi kehidupan, kesehatan, dan masa depan bangsa.