Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan penyesuaian menu dan pola distribusi. Penyelenggara memastikan paket makanan yang dibagikan tetap memenuhi kebutuhan gizi anak, sekaligus memiliki daya tahan hingga waktu berbuka.
Pemilik Dapur MBG Yayasan Miftah Firdausi Banjarmasin, H. Aftahuddin, mengatakan penyusunan menu mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) serta arahan pemerintah pusat. Variasi makanan difokuskan pada sumber protein dan karbohidrat, disertai tambahan vitamin serta mineral.
Menurut Aftahuddin, beberapa jenis lauk berprotein disiapkan secara bergantian, seperti ikan rebuk, ikan cakalang, ikan telur asin, telur, rebuk ayam, rebuk ikan, dan ikan haruan. Ia menegaskan ketersediaan menu tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak secara lengkap.
Selain lauk, paket MBG juga dilengkapi makanan pendamping, di antaranya roti keju, roti abon, risoles, serta kue tradisional berukuran kecil. Susu turut disertakan untuk menunjang kebutuhan nutrisi harian.
Aftahuddin menyebut pemilihan menu mempertimbangkan ketahanan makanan agar tidak mudah basi. Pertimbangan ini dinilai penting karena waktu distribusi disesuaikan dengan jadwal kegiatan belajar siswa selama Ramadan. “Makanan harus tahan sampai berbuka supaya tidak menjadi kendala. Kita pilih yang awet dan aman dikonsumsi,” katanya.
Distribusi dilakukan mengikuti jadwal sekolah masing-masing dan tetap merujuk ketentuan teknis dari pemerintah pusat. Penyelenggara menegaskan tidak ada menu di luar arahan resmi. Beberapa bahan, seperti kurma, tidak dimasukkan dalam paket karena dinilai sudah mudah diperoleh di pasaran, sementara air kelapa murni diperbolehkan sesuai ketentuan.
Program MBG diharapkan tetap menjaga asupan gizi siswa selama menjalankan ibadah puasa. Penyelenggara juga menyatakan evaluasi dilakukan secara berkala agar pelaksanaan di lapangan berjalan optimal dan tidak menimbulkan keluhan dari penerima manfaat. Dengan penyesuaian tersebut, MBG selama Ramadan ditargetkan tetap memenuhi prinsip gizi seimbang, keamanan pangan, serta ketepatan distribusi.
Di sisi lain, Aftahuddin menyoroti persoalan pasokan gula menjelang Ramadan. Ia menyebut izin distribusi gula industri dari pemerintah pusat masih terbatas, dengan alokasi 60 persen untuk pabrikan dan 40 persen untuk BUMN. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan karena kesiapan distribusi dinilai belum sepenuhnya optimal, sementara industri banyak mengeluhkan keterbatasan gula.
Ia mengingatkan, jika gula konsumsi terus dialihkan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman, dikhawatirkan pasokan kebutuhan pokok masyarakat terganggu dan memicu kenaikan harga. Untuk wilayah Kalimantan Selatan, kebutuhan gula selama Ramadan diperkirakan mencapai sekitar 15.000 ton per bulan, meningkat dari rata-rata bulan biasa sekitar 12.000 ton. Saat ini, stok gula disebut sekitar 60.000 ton dengan harga eceran berkisar Rp17.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp16.000.
Aftahuddin mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan. “Saya menghimbau kepada masyarakat, jangan panic buying. Kebutuhan kita tersedia. Kalau memborong, barang bisa kosong dan harga akan naik,” ujarnya.
Selain gula, pihaknya juga mendapat penugasan penyaluran minyak goreng dengan harga eceran Rp15.700 sesuai standar pemerintah. Menjelang Ramadan, kebutuhan minyak goreng di daerah tersebut diperkirakan mencapai 40 kontainer, meningkat dibanding hari biasa.
Aftahuddin menyatakan pihaknya akan terus berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga melalui operasi pasar murah bekerja sama dengan berbagai pihak. “Kami berusaha semaksimal mungkin agar kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri tetap terpenuhi,” katanya.

