MANADO — Operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Manado menyesuaikan pola konsumsi selama Ramadan. Di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tikala Baru Dua, puluhan relawan sejak pagi menyiapkan paket makanan dengan menu kering seperti telur rebus, roti, kurma, dan susu. Penyesuaian ini dilakukan agar makanan dapat dibawa pulang dan dikonsumsi siswa saat berbuka puasa.
Dari dapur tersebut, ribuan paket MBG dikirim ke sekolah-sekolah penerima manfaat, salah satunya Yayasan Pendidikan Islam Al Khairat Manado yang mayoritas siswanya menjalankan ibadah puasa. Setelah proses pengemasan selesai, paket dimuat ke kendaraan distribusi dan dikirim ke sekolah sebelum jam pulang.
Kepala SPPG Tikala Baru Dua, Varen Legrants, mengatakan perubahan menu selama Ramadan mengacu pada petunjuk teknis nasional. “Untuk wilayah yang mayoritas menjalankan ibadah puasa itu diberikan paket siap santap atau kemasan sehat,” ujarnya.
Menurut Varen, pembagian MBG tetap dilakukan pada jam yang sama seperti hari biasa, namun dapur juga menyesuaikan permintaan sekolah. Ada sekolah yang meminta seluruh siswa menerima menu kemasan sehat sebagai bentuk penghormatan bagi siswa yang berpuasa, meski tidak semua siswa menjalankan puasa.
Penyesuaian disebut hanya terjadi pada bentuk menu dan waktu konsumsi, sementara standar gizi tetap menjadi acuan. Ahli gizi SPPG Tikala Baru Dua, Subanrio Kantohe, menjelaskan menu Ramadan dirancang agar tahan hingga waktu berbuka dan tetap memenuhi kebutuhan energi siswa. “Menu-menu kering ini bisa tahan sampai maghrib, jadi anak-anak yang berpuasa bisa menikmati MBG yang diberikan oleh dapur kami,” katanya.
Subanrio menambahkan, komposisi menu tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang. Porsi disesuaikan dengan jenjang pendidikan, dengan upaya menjaga kecukupan karbohidrat, protein, dan serat meski dikemas dalam bentuk sederhana.
Namun, operasional dapur selama Ramadan juga menghadapi tantangan dari sisi harga bahan pangan. Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) SPPG Tikala Baru Dua, Efert Dodolang, menyebut beberapa komoditas mengalami kenaikan. “Kenaikan yang signifikan sekarang ini itu adalah telur,” ujarnya.
Selain telur, Efert menyampaikan komoditas lokal seperti merica, wortel, kentang, dan ketimun turut mengalami fluktuasi harga selama Ramadan. Meski begitu, ia memastikan dapur tetap berjalan mengikuti petunjuk teknis terbaru, termasuk ketentuan batas maksimal penerima manfaat dan jumlah relawan, tanpa penambahan personel selama bulan puasa.
Di sekolah, menu kering dinilai membantu siswa yang berpuasa. Kepala Sekolah SMK Al Khairat Manado, Yanti Koalu, mengatakan bentuk paket tersebut memudahkan siswa menyimpan makanan hingga waktu berbuka. “Kalau yang kering, anak-anak bisa simpan untuk berbuka, jadi tidak ada masalah,” ujarnya.
Yanti juga menilai program MBG membantu orang tua dan berdampak pada kehadiran siswa. Menurutnya, bagi sebagian siswa, paket makanan yang diterima di sekolah menjadi salah satu motivasi untuk datang dan mengikuti pelajaran.
Bagi siswa, paket MBG Ramadan juga menjadi bagian dari momen berbuka di rumah. Aulia, siswa SMK Al Khairat Manado, mengatakan menu yang diberikan cocok karena dapat bertahan hingga waktu berbuka. “Menurut aku, di bulan puasa ini bagus karena bentuknya takjil dan bisa sampai berbuka puasa,” katanya.
Aulia berharap variasi menu dapat terus dikembangkan agar tidak monoton, meski ia memahami keterbatasan menu basah selama Ramadan. Penyesuaian yang dilakukan SPPG menunjukkan upaya menjaga pemenuhan gizi siswa tetap berjalan di tengah perubahan pola makan selama bulan puasa.

