BERITA TERKINI
Menhaj Inspeksi Dapur Katering Haji di Madinah, Temukan Sejumlah Bahan Pangan Masih Didatangkan dari Luar Negeri

Menhaj Inspeksi Dapur Katering Haji di Madinah, Temukan Sejumlah Bahan Pangan Masih Didatangkan dari Luar Negeri

MADINAH — Menteri Haji dan Umrah RI Mochammad Irfan Yusuf meninjau dua dapur katering pada Rabu (3/6/2026) siang untuk memastikan layanan konsumsi bagi jamaah haji Indonesia gelombang kedua selama berada di Madinah.

Didampingi sejumlah anggota Amirul Hajj, Irfan Yusuf—yang akrab disapa Gus Irfan—mengunjungi katering Meez Mery dan Uhud Taiba. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengecek kualitas layanan konsumsi sekaligus menjadi bagian dari pengawasan terhadap dapur katering yang melayani jamaah haji Indonesia.

Saat berada di Meez Mery, rombongan meninjau proses memasak, gudang penyimpanan, bahan baku masakan, serta bumbu masak. Dalam peninjauan itu, Gus Irfan mendapat penjelasan bahwa bahan baku santan berasal dari Indonesia. Namun, pada kardus berisi santan kemasan yang diperiksa, tercantum lisensi dari Malaysia.

Di Uhud Taiba, Gus Irfan juga memperoleh keterangan bahwa ikan teri dan patin yang digunakan berasal dari negara lain. Ia menilai, Indonesia dapat menjadi sumber untuk kedua jenis ikan tersebut.

Gus Irfan menegaskan, pengecekan difokuskan pada standar kebersihan, kesehatan, serta kualitas pengolahan makanan. “Pertama, kami memastikan mereka memasak dan melayani jamaah dengan baik, bersih, dan sehat,” ujarnya.

Selain aspek pelayanan, pemerintah turut menyoroti peluang optimalisasi penggunaan bahan pangan asal Indonesia dalam layanan katering haji. Dalam inspeksi tersebut, Gus Irfan menemukan sejumlah bahan yang dinilai bisa dipasok dari dalam negeri, seperti santan dan ikan patin, namun masih didatangkan dari negara lain.

“Saya lihat ada santan, saya yakin itu dari Indonesia, tapi mereknya dari negara tetangga. Ikan patin juga begitu, padahal kita bisa memproduksinya,” kata dia.

Meski demikian, Gus Irfan mengakui pengiriman bahan pangan dari Indonesia ke Arab Saudi masih menghadapi kendala. Salah satunya terkait situasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada tingginya biaya logistik, termasuk untuk pengiriman beras.