Nama “Festival Kuliner Barat Laut 27 Cita Rasa Masakan Dien Bien” mendadak ramai dicari. Ia muncul sebagai tren karena menyentuh sesuatu yang lebih besar dari makanan.
Festival ini dijadwalkan berlangsung 7 Februari 2026. Lokasinya di Pasar Wisata Muong Thanh, Kelurahan Dien Bien Phu, Provinsi Dien Bien.
Momentum pelaksanaannya bertepatan rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek Tahun Kuda. Di banyak tempat, momen tahun baru selalu memanggil orang pulang pada akar.
Yang membuatnya menonjol adalah puncak acara berupa jamuan 27 hidangan tradisional. Hidangan-hidangan itu dipilih untuk mencerminkan identitas kuliner beragam kelompok etnis.
Di tengah banjir konten kuliner global, angka “27” memberi bentuk yang mudah diingat. Publik menyukai sesuatu yang konkret, terkurasi, dan bisa dibayangkan.
Namun tren ini tidak semata soal rasa. Ia juga soal cara suatu daerah menyusun narasi kebudayaan, ekonomi, dan pariwisata dalam satu panggung yang rapi.
-000-
Isu yang Membuatnya Naik: Ketika Kuliner Menjadi Peta Identitas
Isu utamanya adalah promosi nilai budaya kuliner tradisional kelompok etnis di Dien Bien. Festival ini dirancang sebagai acara budaya dan pariwisata unggulan.
Penyelenggara menekankan bahwa 27 hidangan terkait dengan Tahun Baru Imlek, festival, dan kegiatan masyarakat. Ini penting karena makanan sering hidup dalam ritual.
Festival tidak hanya memamerkan makanan. Ada demonstrasi proses persiapan, penjelasan makna budaya, asal-usul bahan, teknik pengolahan, dan nilai tiap hidangan.
Warga lokal dan wisatawan diajak mencicipi sekaligus belajar. Mereka juga dapat berinteraksi dengan restoran, hotel, dan bisnis makanan khas setempat.
Peserta berasal dari restoran, hotel, tempat makan, dan bisnis jasa makanan khas. Wilayahnya mencakup Kelurahan Dien Bien Phu, Muong Thanh, dan Komune Muong Phang.
Departemen Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata akan memilih 27 hidangan paling unggul. Seleksi ini menunjukkan upaya kurasi untuk membangun “merek” kuliner.
-000-
Mengapa Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Paling Masuk Akal
Pertama, festival ini menawarkan cerita yang lengkap: tradisi, etnisitas, dan perayaan tahun baru. Kombinasi itu mudah memantik rasa ingin tahu lintas negara.
Ketika sebuah agenda menempel pada kalender perayaan, orang mencari informasi lebih cepat. Publik ingin tahu apa yang akan terjadi, apa yang disajikan, dan mengapa penting.
Kedua, ada janji pengalaman yang imersif. Demonstrasi memasak, penjelasan makna budaya, dan jamuan 27 hidangan membuatnya terasa seperti perjalanan, bukan sekadar pameran.
Di era wisata berbasis pengalaman, orang memburu sesuatu yang bisa diceritakan kembali. Kuliner memberi bahasa yang paling mudah untuk berbagi pengalaman.
Ketiga, ada unsur modern yang menenangkan: rencana digitalisasi hasil festival. Dien Bien ingin memasukkan data ke panduan wisata dan membentuk peta digital kuliner.
Publik digital menyukai tradisi yang “terarsipkan” dan mudah diakses. Rencana peta digital membuat festival terasa relevan bagi generasi yang hidup lewat layar.
-000-
Di Balik Panggung: Pariwisata, Ekonomi Lokal, dan Janji Keberlanjutan
Tujuan yang disebutkan jelas: membangun dan memposisikan merek kuliner Dien Bien. Ini strategi untuk menciptakan daya tarik dan menarik wisatawan.
Festival juga diarahkan untuk menstimulasi permintaan pariwisata. Selain itu, ia ingin mengembangkan produk pariwisata terkait kuliner lokal secara berkelanjutan.
Di sini, kuliner diperlakukan sebagai aset. Ia tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga dikelola sebagai produk budaya yang bisa memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Namun, festival semacam ini selalu membawa pertanyaan: bagaimana memastikan keberlanjutan tidak berhenti pada slogan. Jawabannya sering ada pada tata kelola dan konsistensi.
Penyelenggaraan disebut dilakukan dengan koordinasi lintas departemen dan daerah. Ada penekanan pada keamanan pangan, ketertiban, pencegahan kebakaran, dan sanitasi lingkungan.
Kalimat-kalimat teknis itu terdengar administratif. Tetapi justru di situlah kredibilitas acara diuji, karena kepercayaan publik sering lahir dari hal yang tidak terlihat.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Warisan Budaya, Ketahanan Pangan, dan Ekonomi Kreatif
Indonesia akrab dengan tantangan yang serupa: bagaimana menjaga warisan kuliner tradisional tetap hidup. Banyak resep bertahan bukan karena buku, tetapi karena dapur rumah.
Ketika festival menonjolkan bahan lokal dan kearifan persiapan, ia mengingatkan pada isu ketahanan pangan. Bahan lokal berarti rantai pasok yang lebih dekat.
Di Indonesia, diskusi tentang pangan sering berhenti pada produksi. Padahal, cara memasak, memilih bahan, dan menghargai musim juga bagian dari ekosistem pangan.
Festival ini juga menyentuh ekonomi kreatif. Restoran, hotel, dan bisnis makanan khas menjadi aktor utama, bukan hanya pelengkap di pinggir panggung.
Bagi Indonesia, pelajaran pentingnya adalah kolaborasi. Ketika pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas bergerak bersama, kuliner bisa menjadi mesin ekonomi lokal.
Di sisi lain, ada isu representasi. Ketika “identitas etnis” dipamerkan, yang diuji bukan hanya rasa, tetapi juga keadilan dalam penceritaan.
Indonesia pun menghadapi pertanyaan serupa saat mempromosikan budaya daerah. Siapa yang berbicara, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang tetap tak terlihat.
-000-
Kerangka Konseptual: Mengapa Makanan Bisa Mengikat Ingatan Kolektif
Penjelasan festival menekankan makna budaya dan asal-usul bahan. Ini sejalan dengan gagasan bahwa kuliner adalah arsip sosial yang bisa dimakan.
Riset tentang pariwisata kuliner kerap menempatkan makanan sebagai pintu masuk memahami budaya. Wisatawan tidak hanya membeli, tetapi juga menafsirkan.
Dalam studi warisan budaya, makanan sering disebut “intangible heritage”. Nilainya bukan pada benda, melainkan pengetahuan, keterampilan, dan praktik yang diwariskan.
Karena itu, demonstrasi memasak menjadi penting. Ia mengubah resep dari sekadar daftar bahan menjadi pengetahuan yang bisa disaksikan dan ditransmisikan.
Rencana digitalisasi juga menarik secara konseptual. Dokumentasi dapat membantu pelestarian, sekaligus memberi akses yang lebih luas bagi publik.
Namun dokumentasi membawa tantangan: bagaimana menjaga konteks. Resep yang dipindahkan ke layar bisa kehilangan nuansa jika tidak disertai cerita dan situasi sosialnya.
Di titik ini, festival menjadi perdebatan halus antara pelestarian dan komodifikasi. Keduanya bisa berjalan bersama, tetapi memerlukan kehati-hatian.
-000-
Rujukan Peristiwa Serupa di Luar Negeri: Ketika Daerah Membangun Nama lewat Rasa
Di berbagai negara, festival makanan kerap menjadi alat membangun citra daerah. Polanya mirip: kurasi hidangan, narasi tradisi, dan target kunjungan wisata.
Contoh yang sering dibahas adalah festival kuliner regional di Eropa dan Asia Timur. Banyak di antaranya menonjolkan hidangan ikonik sebagai identitas lokal.
Di Jepang, sejumlah daerah mengangkat makanan khas untuk menarik wisatawan domestik. Di Korea Selatan, promosi kuliner lokal juga sering dikaitkan dengan kebanggaan regional.
Di Eropa, festival makanan tradisional kerap disertai penekanan pada asal bahan dan teknik. Itu serupa dengan penjelasan Dien Bien tentang bahan lokal dan kearifan persiapan.
Kesamaan lainnya adalah upaya menjaga standar kebersihan dan keamanan. Ketika makanan menjadi tontonan massal, risiko kesehatan publik ikut membesar.
Perbandingan ini bukan untuk menyamakan konteks. Tetapi untuk melihat bahwa Dien Bien sedang memakai bahasa global pariwisata, sambil membawa dialek lokalnya.
-000-
Apa yang Perlu Diwaspadai: Autentisitas, Keamanan Pangan, dan Ruang bagi Komunitas
Festival menjanjikan “27 hidangan paling unggul”. Kurasi selalu berarti memilih, dan memilih berarti meninggalkan yang lain di luar panggung.
Karena itu, transparansi proses seleksi menjadi penting, meski tidak dijelaskan rinci dalam informasi yang tersedia. Publik biasanya peka terhadap rasa keadilan.
Keamanan dan kebersihan pangan juga krusial. Penyelenggara menyebut koordinasi untuk keamanan pangan dan sanitasi lingkungan, yang menjadi fondasi kepercayaan.
Selain itu, keterlibatan komunitas harus terasa nyata. Ketika budaya dipromosikan, komunitas pemilik tradisi perlu menjadi subjek, bukan sekadar dekorasi.
Digitalisasi pun perlu sensitif. Peta digital kuliner dapat memperluas promosi, tetapi harus memastikan narasi tidak mereduksi budaya menjadi sekadar titik lokasi.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik bisa menanggapinya sebagai kesempatan belajar lintas budaya. Datang bukan hanya untuk mencicipi, tetapi juga untuk mendengar cerita di balik hidangan.
Kedua, pelaku pariwisata dapat mencontoh pendekatan yang menekankan penjelasan makna budaya. Wisata kuliner yang kuat bukan hanya soal menu, tetapi konteks.
Ketiga, pemerintah daerah di mana pun bisa melihat pentingnya standar operasional. Penekanan pada keamanan pangan, ketertiban, dan sanitasi perlu menjadi praktik rutin.
Keempat, upaya digitalisasi patut didorong dengan prinsip pelestarian. Dokumentasi sebaiknya memuat asal-usul bahan, teknik, dan cerita komunitas secara proporsional.
Kelima, media dan warganet sebaiknya menjaga percakapan tetap jernih. Antusiasme boleh tinggi, tetapi hormat pada komunitas dan tradisi harus menjadi pagar.
Festival ini, pada akhirnya, mengingatkan bahwa makanan adalah bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah. Tetapi maknanya tetap perlu dijaga agar tidak menjadi kebisingan.
-000-
Penutup: Rasa yang Menjembatani
Dien Bien ingin dikenal sebagai daerah yang kaya identitas, ramah, dan menarik. Festival ini menjadi cara untuk menyapa dunia lewat meja makan.
Jika dikelola konsisten, ia bisa menjadi contoh bagaimana tradisi dan modernitas saling menguatkan. Tradisi memberi akar, digitalisasi memberi jangkauan.
Pada saat yang sama, kita diingatkan bahwa budaya bukan sekadar konten. Ia hidup dalam orang-orang yang merawatnya, hari demi hari, di dapur yang sunyi.
Seperti kutipan yang sering diulang dalam berbagai konteks kebudayaan: “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”

