Street food atau makanan kaki lima telah lama menjadi bagian penting dari sistem pangan perkotaan di Indonesia. Di tengah laju urbanisasi, mobilitas tinggi, dan keterbatasan waktu, banyak warga kota mengandalkan makanan yang praktis, murah, dan mudah dijangkau. Bagi pekerja dan mahasiswa, street food kerap menjadi solusi konsumsi harian. Namun, di balik perannya yang strategis, sektor ini juga menghadirkan tantangan serius terkait keamanan pangan dan kualitas gizi.
Isu ini semakin relevan seiring perubahan pola konsumsi masyarakat. Data World Health Organization (WHO) Indonesia menunjukkan pola makan kini didominasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (WHO, 2026). Hampir separuh masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali per hari, sementara hanya sekitar 3,3 persen yang memenuhi anjuran konsumsi buah dan sayur. Kondisi tersebut menggambarkan kecenderungan warga perkotaan memilih makanan praktis—termasuk street food—dibandingkan menu yang lebih seimbang.
Dampak kesehatan dari pola makan ini dinilai signifikan. WHO (2026) melaporkan lebih dari separuh kematian akibat penyakit jantung, hampir sepertiga kematian akibat stroke, dan sekitar seperlima kematian akibat diabetes di Indonesia berkaitan dengan pola makan yang tidak sehat. Dalam satu dekade terakhir, prevalensi obesitas pada orang dewasa juga meningkat dari 15,4 persen menjadi 23,4 persen. Data ini menunjukkan persoalan gizi tidak lagi semata terkait kekurangan asupan, tetapi juga kelebihan konsumsi yang tidak seimbang.
Selain aspek gizi, keamanan pangan makanan kaki lima turut menjadi sorotan. Penelitian dalam Scientific Reports menyebut rendahnya pengetahuan pedagang tentang keamanan pangan serta praktik higiene yang tidak memadai menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyakit bawaan makanan (Islam et al., 2024). Kontaminasi dapat terjadi melalui penggunaan air yang tidak bersih, peralatan yang kurang higienis, serta paparan debu dan polusi kendaraan di ruang terbuka.
Sejumlah studi pada 2024 di negara berkembang juga melaporkan masih adanya praktik sanitasi yang kurang baik di kalangan pedagang makanan jalanan (Ndhlovu & Tabit, 2024; Girma et al., 2024). Situasi ini meningkatkan risiko kontaminasi mikrobiologis yang dapat memicu penyakit seperti diare dan infeksi saluran pencernaan. Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut menjadi lebih kompleks karena tingginya ketergantungan masyarakat terhadap makanan siap saji yang dijual di ruang terbuka.
Meski demikian, street food tidak dapat dipandang semata sebagai masalah. Sektor ini berkontribusi besar terhadap ekonomi informal dan menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang. Street food juga melekat pada identitas budaya serta keberagaman kuliner Indonesia, dengan nilai sosial yang kuat. Karena itu, pendekatan yang diambil dinilai lebih tepat jika berorientasi pada penataan dan pemberdayaan, bukan semata pembatasan.
Penataan street food disebut perlu dilakukan secara komprehensif dan berbasis bukti. Edukasi pedagang mengenai higiene dan sanitasi menjadi langkah awal yang penting. Sejumlah penelitian menunjukkan pelatihan keamanan pangan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan praktik kebersihan pedagang (Dhudum & Bhosale, 2024). Intervensi sederhana—seperti penggunaan air bersih, penyimpanan makanan tertutup, dan kebersihan peralatan—dapat menekan risiko kontaminasi.
Di sisi lain, pemerintah daerah dinilai berperan menyediakan infrastruktur pendukung, seperti akses air bersih, tempat pembuangan limbah, dan kawasan khusus street food yang tertata. Penataan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga berpotensi memperkuat daya tarik ekonomi dan pariwisata kota.
Dari aspek gizi, inovasi menu yang lebih sehat juga perlu didorong. Modifikasi seperti mengurangi penggunaan minyak berlebih, membatasi garam dan gula, serta menambahkan sayur dan buah dapat meningkatkan kualitas gizi makanan. Peran akademisi dan tenaga gizi dipandang penting untuk edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha.
Konsumen pun memiliki peran strategis. Pilihan terhadap makanan yang lebih sehat dan higienis dapat menciptakan permintaan pasar yang mendorong pedagang meningkatkan kualitas produk. Dengan demikian, perubahan tidak hanya bergantung pada produsen, tetapi juga pada pola permintaan dari masyarakat.
Pada akhirnya, street food merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan perkotaan—menjadi solusi sekaligus tantangan. Tanpa penataan yang tepat, makanan kaki lima berpotensi meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Namun, dengan pendekatan berbasis data, kolaborasi lintas sektor, serta peningkatan kesadaran bersama, street food dapat menjadi pilar sistem pangan perkotaan yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.

