BERITA TERKINI
Mane di Pidie Mengembangkan Ekosistem Agro-Kuliner Wisata dari Sungai hingga Perkebunan

Mane di Pidie Mengembangkan Ekosistem Agro-Kuliner Wisata dari Sungai hingga Perkebunan

Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Mane saat aliran Sungai Krueng Mane terdengar memecah keheningan pagi. Di tepian sungai, sejumlah pemuda menyiapkan perlengkapan arung jeram. Tak jauh dari sana, ibu-ibu desa membuka warung sederhana yang menyajikan kopi khas pegunungan, pisang goreng hangat, serta makanan tradisional olahan warga.

Gambaran pagi itu menandai perubahan yang perlahan terjadi di Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, Aceh. Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan pedalaman kini mulai tumbuh sebagai tujuan wisata alam, wisata kuliner, sekaligus ruang pengembangan ekonomi berbasis pertanian dan keterlibatan masyarakat.

Secara administratif, Kecamatan Mane berpusat di Gampong Mane dan terdiri dari empat gampong, yakni Gampong Mane, Turue Cut, Blang Dalam, dan Lutueng. Kawasan dataran tinggi ini dikelilingi gugusan pegunungan, hutan lebat, sungai berarus deras, serta lahan pertanian dan perkebunan warga. Topografi perbukitan menjadikan Mane dinilai memiliki potensi pada tiga sektor utama: wisata, kuliner, dan agro.

Camat Mane, H. Muchtar AG, S.Pd.I., M.Pd., menyebut ketiga sektor tersebut kini mulai diarahkan menjadi ekosistem terpadu berbasis agro-kuliner wisata. Menurutnya, wisata perlu terhubung dengan pertanian masyarakat, kuliner lokal, dan ekonomi desa agar dampaknya lebih luas.

Dalam konsep agro-kuliner wisata, pertanian menjadi sumber bahan baku, kuliner mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, sementara wisata menghadirkan pengalaman rekreasi, edukasi, dan budaya bagi pengunjung. Model ini dipandang dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan warga, dan mendorong ekonomi lokal lebih berkelanjutan.

DAS Krueng Mane dan wisata petualangan

Salah satu daya tarik yang berkembang di Mane adalah arung jeram di Sungai Krueng Mane. Sungai yang membelah kawasan pegunungan ini menawarkan pengalaman petualangan dengan panorama alam yang masih asri. Derasnya arus, udara sejuk, dan hamparan hutan hijau membuat kawasan ini menarik bagi wisatawan yang mencari wisata alam sekaligus ketenangan.

Arung jeram di Mane disebut tidak hanya menyasar penggemar olahraga ekstrem, tetapi juga dirancang aman untuk wisata keluarga dan pemula. Seiring itu, kunjungan wisatawan lokal maupun luar daerah mulai meningkat.

Di beberapa titik, masyarakat setempat mengembangkan layanan wisata berbasis komunitas. Operator lokal seperti Wahana Lestari Adventure di Dusun Pante Luah dan Jambo Adventure Camp di Dusun Blang Jambo Mie menjadi bagian dari tumbuhnya wisata petualangan di kawasan tersebut.

Selain rafting, tersedia pula area berkemah di tepi sungai. Pada malam hari, wisatawan dapat menikmati suasana pegunungan dengan suara gemuruh sungai dan udara dingin khas pedalaman. Muchtar menilai kawasan Mane cocok untuk wisata alam dan rekreasi keluarga, karena pengunjung datang tidak hanya untuk berwisata, tetapi juga mencari ketenangan dan pengalaman alam yang berbeda.

Di luar sungai, Mane juga memiliki potensi ekowisata lain seperti Air Terjun Kilonam dan Air Terjun Lhok Jok yang masih alami. Lokasi-lokasi ini disebut sebagai bagian dari kekayaan wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Pertanian sebagai kekuatan utama

Meski wisata alam mulai berkembang, warga Mane selama ini menggantungkan hidup terutama pada sektor pertanian dan perkebunan. Aktivitas agro mencakup hortikultura, perkebunan, hingga hasil hutan rakyat. Tanah pegunungan yang subur dinilai mendukung pengembangan hasil pertanian berkualitas.

Dalam kerangka agro-kuliner wisata, pertanian tidak hanya dipandang sebagai produksi pangan, tetapi juga dapat menjadi daya tarik wisata edukatif. Wisatawan dapat diajak melihat aktivitas bertani, mengenal proses bercocok tanam, menikmati hasil panen, hingga memahami kehidupan pedesaan.

Muchtar menyebut pengalaman langsung seperti itu memberi nilai tambah ekonomi yang lebih besar dibandingkan menjual hasil pertanian dalam bentuk mentah.

Kuliner lokal dan peluang UMKM

Sektor kuliner menjadi penghubung antara wisata dan pertanian. Hasil kebun warga dapat diolah menjadi makanan dan minuman khas yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Di sekitar kawasan wisata, warung kopi tradisional, kuliner rumahan, dan makanan khas mulai tumbuh. Wisatawan yang datang untuk arung jeram atau berkemah juga mencari pengalaman kuliner setempat.

Perkembangan ini membuka peluang bagi UMKM lokal, terutama bagi kaum ibu dan pelaku usaha kecil di desa-desa sekitar. Muchtar menilai pola pengolahan hasil kebun menjadi sajian bagi wisatawan—yang ia sebut sebagai pendekatan farm-to-table—dapat menjadi penguat ekonomi sekaligus memperkuat identitas kuliner lokal.

Desa wisata dan keterlibatan warga

Muchtar menekankan pengembangan wisata Mane bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, model desa wisata dinilai paling tepat, dengan warga sebagai pelaku utama. Peran masyarakat dapat mencakup pengelolaan homestay, wisata kuliner, jasa pemandu, penyewaan perlengkapan rafting, hingga usaha kerajinan dan ekonomi kreatif.

Sejumlah fasilitas seperti homestay berbasis keluarga dan warung kuliner lokal disebut mulai tumbuh melalui partisipasi warga. Selain itu, masyarakat Mane juga dikenal aktif dalam program pemberdayaan sosial; Gampong Mane pernah menjadi desa percontohan program Gammawar (Gampong Mawaddah Warahmah) dari PKK Provinsi Aceh. Muchtar menilai kekuatan sosial ini menjadi modal penting untuk wisata berbasis komunitas.

Usulan masuk RPJMD dan tantangan pengembangan

Di tengah potensi yang berkembang, Muchtar mendorong agar sektor wisata, kuliner, dan agro dimasukkan secara serius dalam arah pembangunan daerah melalui RPJMD Kabupaten Pidie. Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah perlu mulai mengembangkan potensi lokal secara nyata.

Ia menilai pariwisata memiliki efek ekonomi luas karena dapat menggerakkan sektor lain seperti UMKM, ekonomi kreatif, transportasi, kuliner, serta membuka lapangan kerja bagi generasi muda. Namun, ia juga mengakui pengembangan wisata Mane masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan menuju lokasi wisata, fasilitas umum yang belum memadai, hingga promosi yang masih minim.

Karena itu, ia menyebut pembangunan akses jalan, fasilitas sanitasi, jaringan komunikasi, serta promosi digital perlu menjadi perhatian. Menurutnya, perkembangan wisata saat ini sangat dipengaruhi arus informasi digital, sehingga promosi yang lemah berisiko membuat potensi Mane kurang dikenal.

Dengan kombinasi wisata arung jeram, kekayaan alam pegunungan, pertanian warga, kuliner tradisional, dan kekuatan sosial masyarakat, Mane kini dipandang menyimpan harapan baru bagi pengembangan ekonomi Pidie. Tantangan infrastruktur dan promosi masih ada, namun upaya memadukan sektor wisata, agro, dan kuliner menjadi arah yang terus didorong di kawasan ini.