Jumlah mal di Indonesia disebut mencapai sekitar 400 unit aktif, dengan hampir 25 persen di antaranya terkonsentrasi di Jakarta. Di berbagai daerah, kondisi pusat perbelanjaan tidak seragam: ada yang masih bertahan, namun ada pula yang mengalami penurunan aktivitas hingga disebut “hidup segan mati tak mau”. Di Palembang, misalnya, terdapat lima mal besar yang tersebar di beberapa lokasi. Salah satunya sempat disebut akan tutup, namun rencana itu batal setelah ada upaya untuk mempertahankannya.
Ketika pandemi melanda, mal-menutup operasional. Dampaknya, pelaku usaha yang memiliki unit bisnis di dalam mal ikut berhenti beroperasi, sehingga barang-barang yang tersimpan menjadi usang dan berdebu. Setelah masa pandemi mereda, mal kembali dibuka dan pengelola mulai menata ulang area yang lama tidak beroperasi. Para pelaku usaha pun kembali menjalankan unit bisnis mereka.
Seiring waktu, aktivitas mal perlahan menggeliat dan pengunjung mulai berdatangan. Namun, beberapa tahun setelah pandemi, sejumlah mal kembali mengalami periode sepi pengunjung. Dalam situasi ini, muncul istilah yang sempat viral di media sosial, yakni “Rojali” dan “Rohana”. Rojali merupakan singkatan dari “Rombongan Jarang Beli”, sedangkan Rohana adalah “Rombongan Hanya Nanya”. Kedua istilah tersebut menggambarkan fenomena pengunjung yang terlihat ramai, tetapi sebagian besar hanya berjalan-jalan, melihat-lihat, atau menjadikan mal sebagai tempat wisata dan menghabiskan waktu tanpa banyak berbelanja.
Untuk menjaga arus pengunjung tetap tinggi, pemilik atau pengelola mal kemudian memutar otak. Sejumlah ruang atau tenant yang kosong—baik karena penyewa berhenti beroperasi, kontrak tidak dilanjutkan, maupun belum ada penyewa baru—mulai dialihfungsikan menjadi area usaha makanan dan minuman.
Perubahan strategi ini membuat unit bisnis kuliner semakin marak di dalam mal. Indikasinya terlihat dari tenant kuliner yang ramai diserbu pengunjung, kondisi mal yang kembali padat, hingga area parkir yang dipenuhi kendaraan. Di beberapa lokasi, kepadatan kendaraan menuju mal juga disebut memicu kemacetan di jalan sekitar.
Di Palembang, beberapa mal bahkan menyediakan satu lantai, atau lebih, khusus untuk unit bisnis kuliner. Namun, dampak lain dari pergeseran ini adalah unit bisnis nonkuliner—seperti kebutuhan pokok, busana, dan kategori lain—disebut mulai tergeser dan cenderung sepi.
Fenomena ini dinilai selaras dengan kebiasaan pengunjung yang datang ke mal bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk makan dan berekreasi. Dengan menjadikan kuliner sebagai daya tarik utama, sejumlah mal berupaya mengubah suasana yang sempat sepi menjadi kembali ramai.

