Bisnis kuliner kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada pemenuhan kebutuhan makan, melainkan semakin menonjolkan aspek gaya hidup dan komunitas. Perubahan ini membuat aktivitas makan dan nongkrong menjadi bagian dari cara orang mengekspresikan diri serta membangun relasi sosial.
CEO EFN, Jeremy Sim, menilai pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumen agar bisnis dapat bertahan dalam jangka panjang. Menurutnya, kemampuan membaca preferensi dan perilaku pelanggan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah persaingan yang kian ketat.
Dengan fokus baru tersebut, pelaku industri kuliner dituntut tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga pengalaman yang relevan bagi konsumen dan komunitas yang ingin mereka bangun.