MALANG — Hainul Fitriyah memilih beralih dari bisnis fesyen ke usaha kuliner untuk mengembangkan sumber penghasilannya. Melalui Pawon Phity, perempuan asal Malang itu merintis bisnis makanan rumahan yang kini dipasarkan di sekitar 15 gerai Serba Sepuluh Ribu (Serbu) di Kota Malang.
Usaha Pawon Phity telah berjalan sekitar dua tahun. Sebelumnya, Hainul menjalankan toko daring yang menjual hijab. Namun, ketika bisnis konveksi menurun, ia mulai mencari peluang usaha lain yang dinilai memiliki pasar lebih luas.
Pilihan tersebut kemudian jatuh pada sektor makanan. Menurut Hainul, kuliner memiliki kebutuhan pasar yang berkelanjutan karena makanan merupakan kebutuhan sehari-hari. “Menurut saya, usaha kuliner ini tidak akan mati di semua zaman karena semua orang pasti membutuhkan makan. Makanya, saya berinovasi mencoba usaha ini,” ujarnya saat menceritakan awal mula Pawon Phity dalam Jagongan UMKM, Minggu (11/10/2026).
Pada tahap awal, Pawon Phity memproduksi menu bento yang dipasarkan melalui sistem pre-order (PO). Produk tersebut kemudian dititipkan di kantin Universitas Negeri Malang (UM) dan sebuah pondok pesantren.
Seiring waktu, Hainul melihat peluang memperluas pemasaran melalui gerai Serbu. Sekitar enam bulan terakhir, ia mulai menitipkan produknya di sejumlah gerai yang menawarkan berbagai barang dengan harga Rp10.000. Langkah ini ditempuh untuk menciptakan pemasukan harian, mengingat penjualan berbasis PO tidak selalu menghasilkan pesanan setiap hari.
“Awalnya kami hanya membuka PO. Namun, kalau hanya mengandalkan PO, belum tentu setiap hari ada pemasukan. Kemudian kami mencoba menitipkan produk di kantin, lalu berkembang ke gerai Serbu supaya setiap hari ada pemasukan,” kata Hainul.
Saat ini, Pawon Phity berfokus pada beragam olahan ayam, seperti chicken steak, korean chicken, butter chicken, dan ayam geprek. Selain itu, menu tambahan juga dapat dibuat sesuai permintaan pelanggan.
Dalam operasionalnya, Hainul masih menangani sebagian besar proses produksi seorang diri, mulai dari memasak, menyiapkan nasi, membuat sambal, hingga mengemas makanan. Ia dibantu kurir untuk mengantarkan produk ke gerai-gerai mitra.
Hainul menuturkan, proses membangun Pawon Phity diwarnai upaya mencoba dan memperbaiki produk. Pada masa awal, ia meminta orang lain mencicipi masakannya untuk memperoleh masukan terkait rasa dan kualitas.
Nama Pawon Phity juga memiliki makna tersendiri. Kata “pawon” dipilih karena proses memasak dilakukan di dapur rumah, sedangkan “Phity” merupakan pengembangan dari nama panggilan Fitri.
Saat ini, rumah produksi Pawon Phity berada di kawasan Arjosari, Malang. Dengan mengandalkan produksi rumahan dan jaringan pemasaran melalui gerai-gerai Serbu, Hainul terus mengembangkan usahanya agar dapat menjangkau lebih banyak konsumen.