Mahasiswa UGM Kembangkan Rempah SIS, Aplikasi Pemindai untuk Mengenali Rempah Indonesia

Mahasiswa UGM Kembangkan Rempah SIS, Aplikasi Pemindai untuk Mengenali Rempah Indonesia

Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat menempuh berbagai cara untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh. Salah satu upaya yang banyak dilakukan adalah mengonsumsi ramuan herbal berbahan rempah-rempah.

Indonesia dikenal memiliki beragam jenis rempah. Sejumlah penelitian disebut menyatakan rempah-rempah di sekitar rumah dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh karena kandungan kimiawi di dalamnya. Namun, banyaknya jenis rempah beserta manfaatnya tidak selalu mudah diingat. Di kalangan generasi muda, pengetahuan mengenai nama maupun jenis rempah juga dinilai masih terbatas.

Aplikasi pemindai untuk identifikasi rempah

Untuk membantu masyarakat mengenali rempah yang belum diketahui nama atau jenisnya, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan aplikasi pemindai bernama Rempah SIS (Scanner of Indonesian Spices). Aplikasi ini dikembangkan oleh Adha Maula Effendi, Rosalina Diani Prima Anargya (Farmasi 2020), Iskan Mustamir, dan Karunia Perjuangan Mustadl’afin (Teknologi Informasi 2020), dengan bimbingan Dr. Indah Soesanti, S.T., M.T.

Adha menyampaikan pengembangan aplikasi dilakukan melalui program PKM-KC dan memperoleh pendanaan penuh dari Ditjen Diktiristek, Kemdikbud Ristek RI. Menurutnya, kemunculan produk praktis seperti bumbu instan turut membuat masyarakat, terutama generasi muda, semakin jarang mengenali dan membedakan rempah yang ada di sekitar mereka, termasuk yang digunakan sehari-hari di dapur.

Ia menilai rempah merupakan bagian dari khazanah bangsa yang semestinya dikenal sebagai bentuk kearifan budaya. Karena itu, timnya merancang aplikasi pemindai agar identifikasi rempah dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui teknik pemindaian.

Fitur katalog digital dan informasi rempah

Rosalina menjelaskan, Rempah SIS dirancang berfungsi sebagai katalog digital sejumlah rempah di Indonesia. Aplikasi ini juga disiapkan untuk memuat informasi tambahan mengenai rempah, antara lain:

  • ciri-ciri rempah,
  • khasiat, potensi, dan kandungan,
  • resep, mulai dari ramuan herbal di masyarakat hingga masakan.

Melalui informasi tersebut, tim berharap pengetahuan tentang rempah dapat tetap hidup di tengah masyarakat.

Ia menambahkan, pengguna dapat memindai rempah secara langsung atau menggunakan foto rempah dari galeri gawai. Dengan teknik pemindaian, pencarian informasi diharapkan menjadi lebih mudah dibandingkan harus menelusuri lewat internet. Aplikasi ini disebut tersedia gratis melalui Google Play Store.

Harapan untuk pelestarian pengetahuan rempah

Rosita Nur Anarti, S.Pd., pegiat sejarah sekaligus guru sejarah di salah satu SMA di Yogyakarta, menyambut baik kehadiran aplikasi tersebut. Ia berharap aplikasi ini dapat membantu menghidupkan dan memelihara pengetahuan rempah di masyarakat.

Rosita juga mengaitkan upaya ini dengan dukungan terhadap usulan Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia yang diajukan Kemdikbud Ristek ke UNESCO. Pemerintah menargetkan Jalur Rempah menjadi salah satu warisan budaya UNESCO pada 2024. Dalam konteks itu, aplikasi Rempah SIS dinilai dapat menjadi salah satu bukti bahwa rempah-rempah sebagai khazanah bangsa terus diupayakan untuk dilestarikan, termasuk melalui penyimpanan informasi dalam bentuk digital.