PROBOLINGGO—Madrasah Diniyah Takmiliyah (MADITA) Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, menggelar kegiatan ziarah ke sejumlah makam wali dan ulama sebagai bagian dari implementasi pendidikan keagamaan berbasis sejarah dan keteladanan ulama Nusantara.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat (22–23/1/2026) itu melibatkan pimpinan madrasah, para ustadz pembina, serta santri kelas III tingkat SMP dan SMA di lingkungan MADITA Zainul Hasan Genggong.
Rangkaian ziarah mencakup makam Wali Genggong di Probolinggo, makam para Wali Songo yang dikenal sebagai Wali Lima di wilayah Jawa Timur, serta makam Syaikhona Muhammad Kholil di Kabupaten Bangkalan, Madura. Rombongan juga berziarah ke makam Maulana Ibrahim Asmoroqondi di Tuban.
Salah satu guru MADITA Zainul Hasan Genggong sekaligus pembimbing kegiatan, Ustadz Achmad Rosuli Zaid, mengatakan ziarah religi tersebut dirancang sebagai metode pembelajaran kontekstual untuk memperkuat spiritualitas santri, memperluas pemahaman sejarah Islam, serta menanamkan nilai keteladanan akhlak para wali dan ulama.
“Ziarah ini bukan sekadar perjalanan religi, melainkan bagian dari proses pendidikan. Para santri diajak mengenal sejarah Islam Indonesia secara langsung melalui jejak perjuangan para wali dan ulama yang telah membangun peradaban Islam di Nusantara,” ujar Achmad.
Ia menjelaskan, Wali Lima yang menjadi tujuan ziarah merupakan tokoh sentral dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa, yakni Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Lamongan, serta Sunan Giri di Gresik.
Menurut Achmad, kunjungan ke Bangkalan juga diarahkan untuk memperkenalkan sosok Syaikhona Muhammad Kholil sebagai ulama besar Nusantara yang berpengaruh dalam jaringan keilmuan Islam. Ia disebut sebagai guru dari sejumlah ulama, di antaranya KH Mohammad Hasan Genggong, pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, serta KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
“Kami ingin para santri tidak hanya mengenal nama para wali dari buku pelajaran, tetapi juga memahami perjuangan dakwah, keilmuan, dan akhlak mereka secara utuh. Dari situlah nilai adab, tawaduk, dan kecintaan terhadap tradisi Islam Nusantara dapat tumbuh,” kata Achmad.

