BERITA TERKINI
Lipstick Effect Buka Peluang Kuliner Bali, Pelaku Usaha Diminta Perketat Efisiensi

Lipstick Effect Buka Peluang Kuliner Bali, Pelaku Usaha Diminta Perketat Efisiensi

Melemahnya daya beli masyarakat tidak serta-merta menutup prospek bisnis kuliner di Bali. Di tengah fenomena lipstick effect—ketika konsumen menunda pembelian bernilai besar namun tetap mengalokasikan pengeluaran untuk kesenangan sederhana seperti makan dan minum di luar—sektor food and beverage (F&B) dinilai masih menyimpan peluang pertumbuhan.

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan peluang tersebut tetap ada, namun pelaku usaha dituntut semakin efisien dalam mengelola operasional. Menurutnya, kenaikan biaya bahan baku dan ketatnya persaingan dapat menggerus keuntungan bila tidak diantisipasi dengan pengelolaan yang lebih cermat.

Kondisi itu juga tercermin dari kinerja pariwisata Bali yang masih terjaga. Hingga Mei 2026, penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) tercatat sekitar Rp2,89 triliun, meningkat sekitar Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang berada di kisaran Rp2,6 triliun.

Peningkatan PHR tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas konsumsi di sektor hospitality masih tumbuh, meskipun perekonomian global dibayangi ketidakpastian. Data BPS juga menunjukkan aktivitas ekonomi dan tingkat hunian hotel tetap mencatat kinerja positif, walaupun jumlah kunjungan wisatawan sempat menurun tipis akibat kekhawatiran terhadap dampak konflik global dan perlambatan ekonomi.

Secara nasional, industri F&B menghadapi tantangan yang tidak ringan. Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026, jumlah kelas menengah menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Kondisi ini mendorong perilaku konsumsi yang lebih selektif: belanja besar ditekan, sementara pengeluaran untuk hiburan sederhana tetap dipertahankan, termasuk menikmati kopi dan kuliner.

Fenomena tersebut turut tercermin pada konsumsi kopi domestik. Berdasarkan proyeksi USDA, konsumsi kopi Indonesia pada 2026/2027 diperkirakan meningkat menjadi 4,83 juta kantong atau sekitar 290 ribu ton. Di sisi lain, harga biji kopi yang sempat meningkat disebut menekan margin pelaku usaha, meski permintaan pasar secara keseluruhan dinilai masih kuat.

Gunawan menilai peluang bisnis kuliner di Bali masih besar, namun perubahan perilaku konsumen membuat pelaku usaha harus lebih cermat menjaga efisiensi. Ia menyebut masyarakat dan wisatawan masih aktif berkuliner di luar, tetapi kini lebih selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas atau value yang diterima. Pada saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku global menjadi tantangan yang dapat menggerus margin tanpa terlihat secara langsung.

Dalam situasi tersebut, Gunawan menilai pengelolaan operasional secara manual memiliki keterbatasan untuk merespons pasar yang bergerak cepat. Ia menekankan digitalisasi operasional berbasis data secara real time bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah kompetisi yang semakin dinamis.

Untuk membantu peningkatan efisiensi, ESB memperkenalkan tiga solusi digital terintegrasi: ESB POS untuk pengelolaan transaksi, ESB Order yang memungkinkan pelanggan memesan melalui QR Code sehingga disebut dapat memangkas antrean hingga 40 persen, serta ESB Core (ERP) untuk memantau stok dan inventaris secara real time guna menekan pemborosan bahan baku.

Pemilik Kopi Jenar, Mas Munir, mengakui persoalan besar dalam bisnis kopi selama ini adalah ketidaksesuaian stok bahan baku antara pencatatan dan kondisi di lapangan. Ia menyebut, sebelum menggunakan sistem tersebut, stok dalam catatan kerap masih terlihat tersedia namun di lapangan sudah habis. Dengan integrasi ESB POS dan ESB Core (ERP), setiap penjualan disebut otomatis memotong gramasi stok di gudang secara presisi, sehingga angka waste terlihat lebih jelas dan laporan penjualan dapat dipantau melalui ponsel.

Founder 2080 Burger, Heru Dwi Soesilo, juga menyampaikan manfaat teknologi pemesanan digital untuk mempercepat pelayanan, terutama saat musim liburan dan jam sibuk. Menurutnya, antrean panjang di kasir berpotensi membuat pelanggan beralih ke tempat lain. Dengan pemesanan dan pembayaran melalui QR Code dari meja, ia menyebut waktu antrean dapat berkurang hingga separuhnya, perputaran meja lebih cepat, dan operasional tetap berjalan tanpa harus menambah mesin kasir.