Langkat — Lima bulan setelah banjir bandang melanda wilayah pesisir Sumatera, sejumlah wilayah terdampak mulai menghadapi risiko lanjutan yang disebut sebagai “bencana kedua”, yakni ancaman krisis gizi pada ibu dan anak.
Di Dusun Seusirah, Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) Indonesia bersama Aisyiyah melakukan intervensi lapangan dengan membekali kader lokal untuk menghadapi dampak pascabencana, Jumat (24/4/2026).
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan. Tim di lapangan menemukan indikasi perubahan pola konsumsi masyarakat sejak banjir, antara lain meningkatnya ketergantungan pada makanan instan, keterbatasan akses pangan bergizi, serta lemahnya pemahaman gizi di tingkat keluarga. Kondisi ini dinilai berisiko memicu lonjakan stunting apabila tidak segera ditangani.
Kegiatan difokuskan pada edukasi gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai kelompok paling rentan dalam situasi pascabencana. Selain edukasi, dilakukan pula trauma healing untuk anak-anak serta distribusi paket bantuan gizi.
Media Relations YAICI, Fahri, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga kesehatan ibu dan anak. “Fokus kami bukan hanya bantuan sesaat, tapi bagaimana ibu dan anak tetap sehat menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya di sela kegiatan.
Dalam pelaksanaannya, YAICI menggandeng sejumlah mitra, termasuk Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Muslimat NU, untuk memperkuat edukasi berbasis komunitas.
Perwakilan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, dr Hirfa Turrahmi, menyebut kondisi pascabencana kerap memicu krisis gizi yang tidak langsung terlihat. Menurutnya, kelompok yang paling terdampak adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. “Yang paling terdampak itu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kalau tidak segera ditangani, dampaknya bisa panjang,” katanya.
Ia juga menyoroti masih adanya warga yang bergantung pada makanan instan hingga lima bulan setelah banjir. Padahal, ia menilai masa pemulihan idealnya sudah diikuti dengan pemenuhan gizi seimbang. “Empat bulan pascabencana seharusnya sudah kembali ke pola makan sehat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PW Aisyiyah Sumut, dr Yulia Avriana Nasution, menyoroti tingginya konsumsi gula, khususnya dari susu kental manis yang masih dianggap sebagai sumber nutrisi oleh sebagian masyarakat. “Kandungan gulanya jauh lebih tinggi dibanding susunya. Ini berbahaya jika dikonsumsi berlebihan,” ujarnya.
Ia menyatakan pola konsumsi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus gangguan ginjal pada anak di bawah usia 10 tahun. Menurutnya, gula berlebih juga dapat merusak pankreas dan memperberat kerja organ tubuh lainnya.
Intervensi YAICI dan Aisyiyah ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika air surut. Tanpa edukasi dan pengawasan gizi yang memadai, anak-anak di wilayah terdampak berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang yang berdampak jangka panjang.

