Pengalaman menonton film yang selama ini lekat dengan kunjungan ke pusat perbelanjaan dan biaya yang relatif besar kini mendapat alternatif baru. Sebuah konsep bioskop mini yang terintegrasi di dalam gerai Alfamart tengah ramai diperbincangkan di berbagai platform.
Fasilitas bernama Layar Digi ini memperkenalkan konsep micro cinema kepada publik. Berbeda dari jaringan bioskop konvensional dengan studio besar, Layar Digi dirancang sebagai bioskop berukuran lebih kecil dengan kapasitas terbatas. Meski demikian, konsepnya menawarkan suasana menonton yang lebih privat dan tetap nyaman.
Dari sisi pemutaran, Layar Digi disebut sudah didukung teknologi pemutaran digital modern yang ditujukan untuk menjaga kualitas visual. Kehadirannya dinilai praktis bagi masyarakat yang ingin mencari hiburan tanpa harus pergi ke mal.
Daya tarik utama yang membuatnya viral adalah harga tiket yang dipatok Rp15.000 untuk sekali menonton. Tarif ini menjadi sorotan karena jauh lebih terjangkau dibandingkan harga tiket bioskop konvensional pada umumnya.
Selain harga, Layar Digi juga menarik perhatian karena membebaskan penonton membawa makanan dan minuman dari luar ke dalam studio. Kebijakan ini berbeda dari aturan yang lazim diterapkan di bioskop besar, yang umumnya membatasi makanan dan minuman dari luar.
Saat ini, Layar Digi baru hadir perdana di kawasan Gading Serpong. Karena masih dalam tahap soft opening atau pengembangan, pilihan film yang tersedia sementara waktu disebut masih terbatas.
Meski begitu, antusiasme publik terhadap konsep micro cinema ini dinilai besar dan membuka peluang perluasan ke daerah lain. Kehadiran Layar Digi sekaligus menunjukkan upaya inovasi dalam industri hiburan melalui konsep sederhana, harga terjangkau, dan fleksibilitas bagi pengunjung.

