Kabupaten Pati memiliki pilihan kuliner yang menawarkan menu tradisional yang kini mulai jarang ditemui. Salah satunya adalah Lapak Jadul Mak’e, yang menyajikan aneka masakan “jadul” khas Pati, terutama yang lazim ditemukan di wilayah pedesaan.
Lapak tersebut berlokasi di Alun-alun Kembangjoyo Pati. Sejumlah menu yang ditawarkan antara lain nasi jagung, sayur lompong, bothok yuyu, bothok udang kali, kunyit asem, pepes ikan wader, serta teh telang.
Lapak Jadul Mak’e diketahui merupakan usaha dari sejumlah seniman Bumi Mina Tani. Mereka di antaranya Ratna Septi Anggrahenie yang dikenal sebagai Emak Bathok asal Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo; Endang Sriasih atau Emak Susur asal Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen; serta Triyono atau Lik Kribo asal Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa.
Ketiganya merupakan seniman senior di Kabupaten Pati yang berniat memperkenalkan kembali ragam kuliner tradisional yang dinilai belum banyak diketahui generasi sekarang. Ratna menyebut konsep yang mereka bawa adalah mengangkat kuliner jadul Pati, seperti brabuk atau nasi jagung dengan pelengkap sayur lompong dan pokak, serta lauk seperti bothok yuyu, udang kali, dan pepes wader.
“Konsep kami mengangkat kuliner jadul di Pati seperti brabuk (nasi jagung) dengan pelengkapnya sayur lompong, pokak, lauknya ada bothok yuyu, udang kali, pepes wader kali kita bawa ke sini untuk meramaikan menu kita. Ke depan makanan yang hampir punah dari Pati seperti tahu telur, ayam, kodok,” kata Ratna Septi Anggrahenie kepada awak media, Sabtu, 4 April 2026.
Harga makanan di Lapak Jadul Mak’e dibanderol mulai Rp3.000 hingga Rp5.000. Lapak ini buka setiap Senin, Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu, pukul 16.00 WIB sampai 21.00 WIB.
Menurut Ratna, ia bersama dua rekannya sudah cukup dikenal masyarakat Pati. Saat ada gelaran Car Free Day (CFD), dagangan mereka disebut kerap habis dibeli pengunjung. Dalam berjualan, mereka juga mengenakan pakaian adat tradisional dan memperkenalkan kesenian yang menjadi karya mereka, termasuk menarik perhatian pengunjung dengan bernyanyi.
Ratna menjelaskan, kehadiran mereka di Alun-alun Kembangjoyo juga didorong keinginan untuk meramaikan kawasan lapak UMKM sekaligus bentuk solidaritas bagi pedagang kaki lima (PKL) yang dinilai sepi pembeli. Ia menyebut sudah sekitar sepekan terakhir berjualan di lokasi tersebut.
“Udah seminggu jualan di sini, bahkan sejak hari pertama dagangan yang penuh langsung habis. Kami digandeng sebagai pelaku kesenian untuk meramaikan lapak UMKM di Alun-alun Kembangjoyo,” ujarnya.
Selain berjualan langsung, Ratna juga membagikan aktivitas lapaknya melalui media sosial sebagai upaya memperkenalkan kearifan lokal Kabupaten Pati kepada khalayak yang lebih luas.

