Yogyakarta — Tren kuliner viral kini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh rasa. Di era media sosial, makanan juga dinilai dari tampilan visual, keunikan konsep, hingga momentum viral di platform seperti TikTok dan Instagram. Sebuah menu bisa mendadak populer dalam hitungan jam, memicu rasa penasaran publik dan berujung pada antrean panjang di gerai fisik. Namun, di balik daya tarik estetika dan inovasi rasa, muncul pertanyaan penting: sejauh mana kuliner viral tetap memperhatikan aspek kesehatan dan gizi?
Fenomena ini turut menjadi perhatian di lingkungan akademik, termasuk di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang mendorong mahasiswa berpikir kritis terhadap tren populer. Dorongan tersebut tidak hanya menyoroti kreativitas, tetapi juga kesadaran gizi dan keberlanjutan.
Kuliner viral umumnya merujuk pada makanan atau minuman yang menarik perhatian luas karena keunikannya. Daya tarik itu kerap muncul dari kombinasi rasa ekstrem seperti manis–pedas atau asin–manis, penyajian yang estetik dan “instagrammable”, serta porsi berlebihan dengan topping melimpah. Dalam banyak kasus, aspek visual menjadi faktor dominan, bahkan mengalahkan pertimbangan nilai gizi atau keseimbangan nutrisi.
Tren ini digerakkan oleh dua aktor utama. Pertama, generasi digital—terutama Gen Z dan Milenial—yang gemar mencoba hal baru lalu membagikannya di media sosial. Kedua, pelaku UMKM kuliner yang terus berinovasi agar mampu bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat. Bagi pelaku usaha, viralitas dapat mendongkrak penjualan secara signifikan, tetapi tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas agar produk tidak hanya laku sesaat.
Viralitas biasanya bermula dari konten visual yang menarik. Ketika sebuah video atau foto memicu rasa penasaran, dampaknya bisa cepat terasa di dunia nyata, dari kedai kecil hingga kafe besar di pusat perbelanjaan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kekuatan dunia digital dapat memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat.
Namun, cepatnya perputaran informasi juga membuat tren kuliner viral cenderung musiman. Sebuah menu dapat menjadi primadona selama beberapa bulan, lalu perlahan menghilang ketika tren baru muncul. Kecepatan perubahan ini menuntut pelaku usaha untuk terus beradaptasi dan berinovasi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, kreativitas tinggi dalam kuliner viral kerap diiringi kelalaian terhadap aspek gizi. Kandungan gula, garam, dan lemak jenuh sering kali berlebihan demi menciptakan rasa kuat dan tampilan menarik. Jika dikonsumsi secara rutin, kebiasaan ini berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan.
Menikmati kuliner viral bukanlah hal yang keliru, selama dilakukan secara bijak. Kesadaran gizi perlu dibangun dari dua sisi. Dari pihak produsen, tantangannya adalah merancang menu yang tetap unik secara visual, tetapi menggunakan bahan yang lebih sehat atau menawarkan alternatif rendah kalori. Sementara bagi konsumen, kuliner viral disarankan sebagai konsumsi sesekali atau “cheat meal”, bukan pola makan harian.
Sejumlah pendekatan juga dapat dilakukan untuk menciptakan menu viral yang lebih sehat. Pewarna alami dapat menggantikan pewarna buatan, misalnya buah naga atau bit untuk merah/pink, bunga telang atau ubi ungu untuk biru/ungu, pandan atau matcha untuk hijau, serta kunyit atau mangga untuk kuning. Selain mempercantik tampilan, bahan-bahan tersebut juga mengandung nutrisi dan antioksidan.
Inovasi tekstur dapat dilakukan dengan bahan yang lebih sehat, seperti chia seed atau biji selasih sebagai alternatif boba, serta granola atau kacang panggang untuk efek renyah menggantikan biskuit tinggi gula. Produsen juga dapat menawarkan opsi less sugar dan penggunaan susu nabati seperti oat milk atau almond milk, serta pemanis alami seperti madu, gula aren, atau stevia.
Dari sisi penyajian, garnish yang fungsional dan dapat dimakan—seperti potongan buah segar, daun mint, atau edible flowers—dinilai lebih tepat dibanding hiasan yang tidak edible. Transparansi informasi gizi juga menjadi perhatian konsumen modern, misalnya melalui label sederhana seperti “High Fiber”, “No Added Sugar”, atau perkiraan kalori. Selain itu, porsi yang pas dengan plating menarik dapat menjadi alternatif dari tren porsi berlebihan, sekaligus mendukung konsep mindful eating.
Pada akhirnya, kuliner viral merupakan wujud kreativitas di era digital yang mampu menggerakkan ekonomi dan budaya populer. Namun tanpa kesadaran gizi, tren ini berisiko membentuk pola konsumsi yang kurang sehat. Keseimbangan antara inovasi, estetika, dan nilai gizi menjadi kunci agar kuliner viral tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kesehatan.

