Kuliner kian diposisikan sebagai bagian penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Delta Mekong, Vietnam. Tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, kuliner dinilai berkontribusi pada pelestarian budaya, pembangunan ekonomi, serta pembentukan citra destinasi yang lebih menarik. Melalui pengalaman mencicipi makanan lokal, wisatawan diajak menelusuri budaya setempat, kehidupan di tepi sungai, hingga sejarah wilayah selatan.
Wakil Ketua Tetap Asosiasi Pariwisata Delta Mekong, Le Thanh Phong, menilai peran kuliner dalam pariwisata selama ini belum mendapat pengakuan semestinya. Menurut dia, pariwisata merupakan sektor ekonomi penting dengan budaya sebagai inti, sementara tujuan akhirnya adalah ekonomi. Ia menegaskan kuliner seharusnya dipahami sebagai komponen utama produk pariwisata bersama transportasi, akomodasi, dan destinasi.
Kesadaran akan pentingnya kuliner itu, kata Phong, telah mendorong Asosiasi Pariwisata Delta Mekong sejak 2016 membentuk Asosiasi Koki Profesional Delta Mekong. Setelah satu dekade berjalan, asosiasi tersebut disebut telah menghasilkan dampak signifikan bagi pengembangan pariwisata di kawasan itu.
Wakil Presiden Asosiasi Koki Vietnam sekaligus Presiden Asosiasi Koki Profesional Delta Mekong, Nguyen Loc, menekankan bahwa masakan bukan sekadar makanan, melainkan budaya, identitas, dan jiwa bangsa. Ia menyebut koki serta para pengrajin sebagai pihak yang tekun melestarikan dan menyebarkan esensi tersebut.
Dalam 10 tahun terakhir, Asosiasi Koki Profesional Delta Mekong menjadi wadah bersama bagi komunitas koki profesional dengan 156 anggota yang tersebar di berbagai provinsi dan kota. Asosiasi ini juga menaungi sejumlah klub khusus, antara lain masakan Vietnam, masakan Cina, masakan Eropa, ukiran buah dan sayuran, serta bartending.
Asosiasi tersebut turut menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam hampir 20 kegiatan pemecahan rekor kuliner. Di antaranya pembuatan banh chung raksasa dengan berat hampir 3 ton, penyajian 135 hidangan berbahan jeruk bali Binh Minh, 100 hidangan berbahan mi beras Vietnam, hingga pembuatan peta Vietnam terbesar dari beras ketan dengan santan.
Meski demikian, Loc menilai kontribusi paling penting bukan terletak pada jumlah penghargaan atau rekor. Ia menekankan upaya asosiasi dalam mengangkat profesi kuliner dari pekerjaan yang selama ini berada “di balik layar” menjadi profesi yang lebih dihormati dan memiliki status layak dalam masyarakat modern.
Ke depan, menurut Loc, sejumlah program direncanakan untuk memperluas promosi kawasan, seperti Festival Kuliner Delta Mekong, kompetisi koki muda, serta upaya pemecahan rekor 250 jenis kue tradisional berbahan beras dan beras ketan. Program-program itu diharapkan memperkuat citra Delta Mekong di peta pariwisata domestik maupun internasional.
Di sisi lain, upaya meningkatkan pengalaman pengunjung juga dilakukan melalui penguatan standar profesional dan internasional, serta pembinaan generasi koki muda agar mampu mewariskan keahlian. Dalam konteks globalisasi, ketika setiap wilayah berupaya menceritakan kisahnya melalui budaya dan pengalaman, para koki Delta Mekong disebut menyampaikan cerita itu lewat cita rasa yang otentik dan khas.
Sejalan dengan misi tersebut, Asosiasi Kuliner Kelapa di tingkat provinsi dibentuk untuk melestarikan dan menyebarkan nilai kuliner lokal, sekaligus menghubungkan pengrajin, koki, pelaku usaha, dan masyarakat. Organisasi ini juga diarahkan untuk menjadikan kuliner sebagai penggerak pariwisata dan pembangunan ekonomi regional.
Ketua Asosiasi Kuliner Kelapa Vinh Long, Ho Thanh Son, baru-baru ini menerima penghargaan dari Asosiasi Pariwisata Vietnam sebagai ahli kuliner. Son menyebut dirinya telah mengabdikan lebih dari 20 tahun di industri kuliner.
Menurut Son, setelah penggabungan wilayah, provinsi ini memiliki kekayaan budaya kuliner yang beragam. Selain hidangan berbahan kelapa, terdapat pula aneka sajian dari ikan lele, jeruk bali, ubi jalar, lumpia My Long, kue beras kembung Son Doc, banh tet, sup mi, dan lainnya yang menarik pengunjung dari berbagai daerah.
Son berharap setiap koki mampu menjadi “pendongeng” tentang budaya dan makanan lokal melalui produk kuliner yang ditampilkan. Ia menilai kisah yang dibangun harus cukup memikat agar pengunjung terhanyut dalam hidangan dan terdorong kembali berkunjung ke Vinh Long karena merindukan cita rasa khasnya.
Sementara itu, instruktur kuliner di Sekolah Pelatihan Kuliner Barat (Can Tho), Huynh Kim Loi, menekankan bahwa hidangan yang dapat menarik wisatawan harus disiapkan secara teliti, bersih, serta memenuhi aspek keamanan dan kebersihan pangan. Ia juga menilai sajian perlu mencerminkan nilai budaya lokal sembari menggabungkan unsur modern dan inovatif agar relevan bagi pengunjung.

