Penerapan program makan bergizi di sekolah tidak lepas dari tantangan di lapangan. Sejumlah kendala yang kerap muncul antara lain keterbatasan bahan pangan lokal yang dipengaruhi musim, kebutuhan pengolahan makanan yang harus serba cepat agar tetap higienis, hingga kapasitas sumber daya manusia (SDM) dapur yang memerlukan pelatihan teknik olahan, kebersihan, dan kreativitas penyajian.
Tantangan lain datang dari perubahan selera anak. Banyak siswa kini terbiasa dengan fast food, rasa yang kuat, tekstur garing, atau makanan manis. Kondisi ini menuntut inovasi agar makanan berbasis bahan lokal dapat tampil lebih “kekinian”, baik dari sisi tekstur, penyajian, maupun penamaan menu.
Contoh praktik yang menarik terlihat pada dapur MBG Kecamatan Kalidawir, Tulungagung. Dilansir dari metrotvnews.com dan akun Instagram @eksistulungagung, dapur tersebut rutin menampilkan menu harian di akun TikTok dan Instagram resminya, disertai informasi kandungan gizi. Unggahan ini menjadi bagian dari agenda mingguan, ketika SPPG mempublikasikan rangkuman menu MBG yang disiapkan untuk peserta didik.
Menu yang ditampilkan beragam. Salah satunya paket hari ke-60 yang terdiri dari nasi, ayam saus mentega, tempe goreng, tumis wortel dan jamur, serta pisang. Dalam unggahan tersebut, total gizi per porsi dicantumkan sekitar 845,3 kkal, protein 26,8 gram, lemak 60,6 gram, dan karbohidrat 76,4 gram.
Pada periode 8–12 September 2025, variasi menu juga terlihat melalui kombinasi seperti tahu kres, jeruk, dan ayam teriyaki, serta nasi kuning dengan telur orak-arik, bakso, wortel dan timun, serta orek tahu. Langkah transparansi menu beserta informasi gizi ini disebut mendapat apresiasi dari publik dan guru. Variasi sajian dinilai membuat siswa lebih bersemangat.
Kreativitas dalam mengolah menu lokal tidak hanya ditujukan untuk memanjakan selera, tetapi juga mendukung kesiapan anak dalam belajar. Sajian yang menarik dan bernutrisi disebut dapat membantu anak lebih fokus, aktif berdiskusi, serta lebih kuat menahan kantuk. Jika dijalankan secara konsisten, program ini dipandang berpotensi membentuk kebiasaan makan sehat, menumbuhkan kecintaan pada pangan daerah, mengurangi konsumsi makanan olahan yang berisiko dalam jangka panjang, serta menjadi rujukan bagi sekolah atau daerah lain.
Dengan strategi mengutamakan bahan lokal dan inovasi penyajian, program MBG dapat menjadi jembatan antara pemenuhan gizi dan penguatan apresiasi terhadap kuliner daerah. Anak-anak tidak hanya merasa kenyang, tetapi juga diharapkan semakin peduli pada pangan lokal, sekaligus lebih terlindung dari pengaruh fast food maupun minuman tinggi gula.

