Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menegaskan tradisi Panginan Sukup Simpan bukan sekadar kuliner, melainkan simbol ketahanan pangan serta kearifan lokal Dayak yang perlu dijaga dari gerusan zaman.
Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Kotim, Wim Reinardt Kalawa Benung, menyebut Panginan Sukup Simpan sebagai warisan leluhur yang menggambarkan kekayaan bahan lokal dan estetika penyajian sebagai wujud rasa syukur. Hal itu disampaikannya saat membuka Lomba Masak Khas Daerah (Panginan Sukup Simpan) di Sampit, Kamis.
Lomba tersebut digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim berkolaborasi dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kotim. Wim mengatakan kegiatan ini menjadi langkah pemerintah daerah dalam melestarikan kuliner tradisional Kalimantan Tengah, sekaligus mendorong masyarakat—terutama ibu-ibu PKK—untuk mengolah bahan lokal menjadi hidangan sehat dan bernilai jual.
Menurut Wim, kuliner tradisional juga dapat menjadi pilar ekonomi kreatif. Ia menilai pengemasan yang lebih modern dapat dilakukan tanpa menghilangkan tradisi, sehingga turut mendukung promosi pariwisata kuliner di Kotim. Ia juga mengingatkan peserta agar memperhatikan tiga aspek utama penilaian, yakni kebersihan, cita rasa, dan estetika penyajian.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Festival Habaring Hurung ini sekaligus berfungsi sebagai seleksi menuju Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) di Palangka Raya pada Mei 2026. Wim menyampaikan optimisme Kotim dapat mempertahankan prestasi, mengingat pada FBIM 2025 Kotim meraih juara pertama untuk kategori tersebut.
Wim menambahkan, Pemkab Kotim melalui Disbudpar berkomitmen menggali kearifan lokal yang belum banyak terekspos. Sosialisasi budaya disebut penting agar identitas daerah tetap dikenal luas, terutama oleh generasi muda. Ia berharap pemuda Kotim semakin mengenal adat, istiadat, dan budaya lokal sebagai benteng pertahanan budaya di masa depan.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kotim Khairiah Halikinnor mengatakan pemilihan Citimall Sampit sebagai lokasi lomba bertujuan agar masyarakat luas, termasuk generasi muda, lebih mengenal kuliner tradisional. Ia menyoroti masih adanya pelajar yang tidak mengenal masakan daerah, sehingga ajang ini diharapkan dapat mengangkat kearifan lokal agar Panginan Sukup Simpan mampu bersaing dengan tren makanan kekinian.
Dalam lomba ini, 15 dari 17 kecamatan di Kotim berpartisipasi. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tidak diikutkan untuk memberi kesempatan wilayah lain berprestasi, mengingat kecamatan tersebut merupakan juara pertama tingkat provinsi pada 2025.
Khairiah menyebut para pemenang tingkat kabupaten akan mendapatkan pembinaan khusus dari TP PKK. Pembinaan itu ditujukan agar perwakilan Kotim tampil maksimal pada tingkat provinsi dan berupaya mempertahankan capaian terbaik. Ia juga menyampaikan penilaian sementara menunjukkan inovasi peserta dinilai baik dalam mengangkat bahan lokal.
Di sisi lain, Sekretaris Disbudpar Kotim Gusti Mukafi menyebut Panginan Sukup Simpan sebagai tumpeng khas Dayak yang mengandung makna filosofis tentang rasa syukur, kebersamaan, dan kelengkapan gizi dari hasil bumi. Ia menilai hidangan tersebut mencerminkan pemanfaatan lahan oleh warga Dayak, dengan rempah-rempah dan bahan baku yang menggambarkan kekayaan komoditas lokal dari berbagai wilayah, termasuk hasil kebun hingga hasil laut.
Gusti mencontohkan wilayah Teluk Sampit yang menyajikan udang dan ikan laut dalam satu hidangan. Menurutnya, hal itu menunjukkan kolaborasi hasil bumi yang dapat diolah secara higienis dan dikemas menarik tanpa menghilangkan keaslian rasa.
Disbudpar berharap ajang ini mendorong masyarakat menerapkan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Inovasi penyajian juga dinilai penting agar kuliner daerah memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar nasional. Gusti mengaku terkesan dengan keseriusan peserta yang menyiapkan hidangan sejak dini hari, serta optimistis cita rasa autentik Dayak Kotim memiliki daya saing.

