Pola makan sehat dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga kualitas hidup di setiap tahap usia, mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, hingga lansia. Salah satu panduan yang digunakan adalah konsep piring sehat, yakni komposisi makan seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah dengan proporsi yang tepat, disertai kecukupan air putih serta pembatasan gula, garam, dan lemak agar tubuh tetap bugar dan berenergi.
Meski kebutuhan nutrisi berbeda pada tiap kelompok usia, prinsip dasarnya tetap sama: memenuhi kebutuhan energi, mendukung pertumbuhan dan perkembangan, serta menjaga kesehatan tubuh secara optimal dan berkelanjutan. Karena itu, penerapan piring sehat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing generasi agar pola makan seimbang dapat diterapkan secara tepat.
Petugas MBG Busul Bumil Kabupaten Sanggau, Aprilia Kartini, menyampaikan bahwa makanan untuk anak-anak memerlukan perhatian khusus karena cenderung lebih sensitif. Ia menekankan pentingnya memastikan menu yang dikonsumsi anak sesuai dan bergizi, serta tidak diberikan secara sembarangan.
“Kalo makanan anak - anak kita kan agak sensitif, tidak boleh sembarangan juga kalo untuk anak - anak. Kadang kite kasi masukan untuk mereka supaya anak - anak bisa dapat makanan yang bergizi dan sesuai,” ujar Kartini dalam Dialog MBG RRI Sanggau, Sabtu (28/3/2026).
Dalam program MBG, porsi makanan disebut berbeda sesuai kategori penerima manfaat, seperti ibu hamil serta bayi dan balita. Kartini menjelaskan, porsi untuk ibu hamil dan ibu menyusui cenderung lebih banyak dibandingkan porsi untuk balita.
Ia juga menyebut jumlah penerima manfaat di wilayah Tanjung Sekayam saat ini mencapai 39 orang untuk kategori busui dan bumil, serta 31 anak balita.
“Perbedaan porsi tetap ada, kalo bumil dan busuinya tuh agak banyak, kalo untuk yang balitanya agak sedikit. Dengan jumlah penerima sebanyak 39 orang untuk bumil dan bususi dan balita sebanyak 31 anak untuk di wilayah tanjung sekayam,” katanya.
Selain pengaturan porsi, proses pendistribusian makanan juga menjadi perhatian. Kartini mengatakan, penyaluran bantuan dipastikan tiba langsung ke rumah penerima secara tepat waktu dan aman. Dalam kondisi tertentu, misalnya ketika suami penerima sedang berada di luar kota, petugas tetap mengantarkan makanan dan memastikan bantuan sampai ke depan rumah.
“Untuk pendistribusian juga selalu dipastikan sampai ke rumah penerima, karena kan biasanya kan ada yang suami nya sedang di luar kota. Dan sudah menjadi tugas kami untuk mengantar dan kami memastikan sampai ke depan rumah penerima,” ucapnya.

