BERITA TERKINI
Kisah Tukang Bumbu Legendaris di Medan yang Kini Diteruskan Mantan Pegawainya

Kisah Tukang Bumbu Legendaris di Medan yang Kini Diteruskan Mantan Pegawainya

Kesibukan sebagai ibu pekerja sekaligus mengurus rumah tangga tanpa asisten membuat seorang warga Medan harus pandai mengatur waktu, terutama untuk urusan memasak. Ia memilih menyiapkan makanan di rumah dan bekal sekolah dibanding membeli di luar atau memesan daring, dengan alasan ingin keluarga mengonsumsi makanan yang sehat, higienis, sekaligus lebih hemat.

Namun, memasak menu bervariasi setiap hari bukan perkara mudah. Selain proses memasak, persiapan bahan seperti memotong sayur, membersihkan ikan, hingga meracik bumbu dinilai menyita waktu, terutama pada pagi hari. Agar menu tetap beragam dan anak-anak tidak bosan, ia mencari cara untuk mengefisienkan pekerjaan dapur tanpa mengorbankan rasa dan kebersihan.

Salah satu solusi yang dilakukan adalah menjadwalkan belanja mingguan pada akhir pekan. Dalam satu kali belanja, ia membeli bahan makanan dan bumbu untuk kebutuhan satu minggu, bahkan pernah untuk dua minggu saat kesibukan meningkat. Ia juga rutin membeli bumbu segar yang diracik dari bahan berkualitas dan digiling di tempat, seperti bumbu gulai, rendang, arsik, kari, semur, opor, rica-rica, dan lainnya.

Di Medan, ia menyebut ada tukang bumbu yang dikenal luas dan hampir selalu ramai, terutama pada Sabtu, Minggu, serta menjelang hari besar keagamaan. Antrean pembeli kerap panjang, bahkan disebut bisa mencapai jalan raya, dengan sistem nomor antrean pada waktu tertentu. Dalam kondisi ramai, pembeli juga berisiko kehabisan stok.

Ia mengenal penjual bumbu tersebut dari keluarganya sekitar 25 tahun lalu. Sebelumnya, ia mengaku enggan membeli bumbu jadi karena khawatir bahan kurang segar dan rasanya tidak sesuai. Namun, pengalaman berbeda ia rasakan di toko ini, yang menurutnya memiliki cita rasa kuat dan konsisten, termasuk berdasarkan testimoni banyak pelanggan.

Pada awalnya, toko tersebut dikelola sepasang suami istri yang dipanggil Koko dan Cici. Toko sederhana itu menata berbagai bahan bumbu seperti bawang, cabai, kunyit, merica, jahe, andaliman, dan lainnya. Beberapa pegawai membantu proses menggiling, mengemas, dan meracik. Pada mulanya, racikan bumbu dikerjakan Koko dan Cici, tetapi seiring meningkatnya jumlah pelanggan, pegawai mulai dilibatkan untuk membantu meracik.

Seiring waktu, Koko sakit dan meninggal dunia. Cici kemudian melanjutkan usaha bersama para pegawai. Beberapa tahun setelahnya, Cici juga meninggal dunia, dan layanan diteruskan oleh pegawai-pegawai yang telah terampil. Meski pemilik awal telah tiada, pelanggan menilai rasa bumbu tidak berubah.

Selain rasa, ia menilai bumbu tersebut praktis untuk disimpan. Bumbu dapat bertahan hingga dua minggu di lemari es dan lebih lama jika disimpan di freezer. Dari sisi kebersihan dan kerapian, ia menyebut peracik menggunakan sarung tangan plastik, bahan dasar tampak segar saat diantar ke toko, serta kemasan diberi label nama masakan sehingga memudahkan saat digunakan.

Menurutnya, pelanggan toko bumbu ini tidak hanya berasal dari Medan, tetapi juga dari luar kota. Ia pernah melihat pegawai memaket bumbu untuk dikirim, serta pelanggan yang membeli untuk dikirim kepada keluarga di luar daerah.

Namun beberapa bulan lalu, ia mendapati toko langganannya mendadak tutup. Ia sempat kecewa karena toko sudah tutup pada pukul 11.00 WIB, padahal biasanya tutup pukul 12.00 WIB. Keesokan harinya ia kembali, tetapi toko masih tutup. Dari petugas parkir, ia mendapat informasi bahwa toko tersebut sudah tutup lebih dari seminggu dan ada toko bumbu baru yang buka di dekat lokasi.

Ia kemudian mendatangi toko baru itu dan mendapati pemiliknya adalah empat pegawai yang selama puluhan tahun bekerja bersama Koko dan Cici. Di tempat baru tersebut, bumbu tetap digiling di lokasi, dengan bahan yang disebut masih segar dan berkualitas.

Ia mengaku lega karena menemukan kembali rasa bumbu yang sama dengan peracik yang sama, meski usaha kini dijalankan oleh mantan pegawai. Toko itu bernama Bumbu Kita, beralamat di Jalan Sei Mencirim No 5, Medan. Toko juga mencantumkan nomor telepon untuk memudahkan pelanggan yang ingin memesan. Ia berharap cita rasa dan kualitas bumbu tetap dipertahankan, karena bagi banyak keluarga, racikan tersebut bukan sekadar bumbu, melainkan bagian dari kenangan dan tradisi.