Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikenal sebagai salah satu peninggalan sejarah yang menjadi ikon Cirebon. Masjid yang disebut telah berusia sekitar 500 tahun ini juga memiliki ciri khas azan tujuh, serta beragam cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Budayawan Cirebon, Akbarudin Sucipto, menuturkan salah satu kisah yang berkaitan dengan peristiwa “Bruang Mandi”, yang disebut sebagai racun atau guna-guna yang dipasang di bagian momolo (kubah) Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Ia menyampaikan kisah itu pada Selasa (29/9/2020).
Masjid sebagai pusat kegiatan Cirebon
Berdasarkan catatan sejarah yang disampaikan Akbarudin, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada 1489 Masehi oleh Sunan Gunung Jati. Di masjid ini, Sunan Gunung Jati disebut memilih malam Jumat Kliwon untuk mengumpulkan para pejabat negara, tumenggung, buyut, kigedeng, dan kigede se-Cirebon.
Pertemuan itu digambarkan sebagai ajang silaturahmi sekaligus evaluasi kerja natagama dan tata kelola pemerintahan Cirebon Nagari setiap bulan. Fungsi masjid sebagai pusat kegiatan dakwah Islam dan tempat para pembesar kerajaan berkumpul serta bermuhasabah disebut berlanjut hingga masa Panembahan Ratu Awal.
Akbarudin menyebut Panembahan Ratu Awal sebagai figur yang disegani dan dihormati di tanah Jawa bahkan Nusantara. Ia juga menekankan kesederhanaan Panembahan Ratu Awal, yang digambarkan tinggal di rumah dengan tiang dari batang jarak dan atap dari daun jati, sementara kondisi masyarakat Cirebon saat itu disebut makmur, aman, damai, dan sejahtera.
Santri dari luar Cirebon dan pandangan tentang masjid
Menurut Akbarudin, Panembahan Ratu Awal memiliki santri dan murid dari berbagai kerajaan di luar Cirebon. Dua di antaranya yang disebut adalah Pangeran Geusan Ulun dari Sumedang dan Mas Rangsang dari Mataram. Mas Rangsang kemudian bergelar Sultan Agung Anyokrokusumo Mataram, dan saat dinobatkan disebut dinobatkan oleh Panembahan Ratu.
Akbarudin juga menyampaikan pandangan yang dikaitkan dengan Sultan Agung Mataram: untuk mengetahui kondisi masyarakat sebuah negara—termasuk kepatuhan kepada orang tua serta penghormatan kepada ulama dan pemimpin—maka dapat dilihat dari kondisi masjidnya, pola hubungan pengurus dan jamaah, hingga peran masjid terhadap lingkungan.
Pemahaman itu, menurut Akbarudin, menjadi salah satu dasar bagi pasukan intelijen Mataram untuk menyusup ke wilayah Cirebon dalam rangka aksi dan patroli keliling tanah Jawa dengan tujuan menguasai Jawa.
Gangguan di Masjid Sang Cipta Rasa
Dalam catatan Mertasinga yang dirujuk Akbarudin, Masjid Agung Sang Cipta Rasa disebut pernah diganggu oleh tokoh panglima utusan Mataram bernama Ki Gedeng Anis.
Akbarudin menuturkan, Ki Gedeng Anis memerintahkan pengawalnya menaruh “Bruang Mandi”—yang ia sebut sebagai racun, atau dalam istilah orang dulu disebut guna-guna—di bagian momolo Masjid Sang Cipta Rasa.
Dampaknya, kata Akbarudin, warga Cirebon yang berada di masjid saat itu disebut merasakan kedinginan, ketakutan, sakit, bahkan ada yang meninggal. Ia juga menyatakan bahwa berdasarkan penelusurannya, peristiwa tersebut memicu perpecahan di antara pengurus masjid.
Akbarudin menyebut ada sumber lain yang ia dapatkan yang menyatakan dampak “Bruang Mandi” menjangkau radius lebih dari 300 meter dari pusatnya di momolo masjid. Perpecahan antar pengurus masjid disebut sampai memunculkan berbagai fitnah yang kontraproduktif.
Peran Nyi Mas Pakungwati
Di tengah situasi tersebut, Nyi Mas Ratu Pakungwati disebut mendapat mandat langsung dari Panembahan Ratu Awal untuk membantu mengatasi bencana perpecahan di Cirebon.
Menurut naskah Mertasinga yang disampaikan Akbarudin, Pakungwati saat itu disebut sedang berada di Tegal. Sumber lain yang ia sebutkan menyatakan Tuban, namun ia menegaskan bahwa yang jelas Pakungwati berada di luar Cirebon. Akbarudin menggambarkan Pakungwati sudah sepuh dan renta, namun tetap gesit serta segera merespons dawuh Panembahan Ratu Awal. Ia juga menyebut Pakungwati dikenal sebagai mantan permaisuri agung Sunan Gunung Jati.
Akbarudin menggambarkan Nyi Mas Pakungwati berdiri bersama Panembahan Ratu Awal di Alun-alun Kasepuhan Cirebon, menatap ke arah sumber “Bruang Mandi” di momolo Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Atas izin Panembahan Ratu Awal, Pakungwati masuk ke masjid dan mengumandangkan azan dengan suara nyaring.
Akbarudin menuturkan, setelah azan dikumandangkan, terdengar suara ledakan keras dari arah langit masjid, khususnya di bagian momolo. “Bruang Mandi” disebut terlempar, hancur, dan musnah dengan sendirinya, sehingga keadaan kembali normal.
Wafatnya Nyi Mas Pakungwati
Namun, Akbarudin menyatakan bahwa bersamaan dengan musnahnya “Bruang Mandi”, Nyi Mas Pakungwati wafat. Ia menyebut wafatnya Pakungwati sebagai syahid karena dinilai telah menyelamatkan masjid, wibawa Cirebon, serta mengakhiri kecemasan dan ketakutan masyarakat.
Dalam kisah yang disampaikan Akbarudin, Nyi Mas Pakungwati disebut sebagai permaisuri Sunan Gunung Jati. Ia juga disebut merupakan putri Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Kencana Larang.
- Masjid Agung Sang Cipta Rasa disebut dibangun pada 1489 M oleh Sunan Gunung Jati.
- Kisah “Bruang Mandi” merujuk pada racun atau guna-guna yang disebut dipasang di momolo masjid.
- Nyi Mas Pakungwati dikisahkan mengumandangkan azan hingga “Bruang Mandi” musnah, lalu wafat.

