Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk meningkatkan asupan nutrisi peserta didik menuai sorotan di Lampung. Sejumlah pihak menilai pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya memenuhi standar gizi yang diharapkan.
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Lampung, Donny Irawan, menilai menu MBG seharusnya mengacu pada prinsip penyajian makanan bergizi seimbang. Ia menyebut komponen yang perlu dipenuhi antara lain sumber karbohidrat seperti nasi, jagung, dan ubi; protein hewani seperti telur, ikan, dan daging; protein nabati seperti tempe, tahu, dan kacang-kacangan; serta dilengkapi sayur, buah, dan air minum yang cukup.
“Seharusnya Makan Bergizi Gratis memenuhi standar di atas agar anak-anak sekolah menjadi sehat dan pintar,” ujar Donny dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).
Namun, Donny menyatakan masih ditemukan sejumlah SPPG yang diduga tidak konsisten menerapkan standar tersebut. Ia menyoroti dugaan perubahan komposisi menu yang dilakukan demi keuntungan, sehingga standar gizi tidak terpenuhi.
“Banyak SPPG yang mengubah sendiri komposisi menu demi keuntungan besar. Akhirnya standar gizi tidak terpenuhi. Ini bisa menimbulkan dampak seperti anak mengalami gangguan kesehatan, termasuk risiko diabetes akibat kadar gula berlebih, serta persoalan manajemen pengelolaan yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan,” tegasnya.
Keluhan juga datang dari sejumlah wali murid. Mereka menilai menu kering yang dibagikan selama bulan puasa tidak mencerminkan standar kecukupan gizi sebagaimana yang digaungkan pemerintah.
Ira Widya, wali murid di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Sukarame, mengaku pernah mendapati makanan yang dinilai tidak layak konsumsi dalam paket MBG yang diterima putrinya.
“Ini bagaimana ya? telurnya busuk, salaknya berair. Terus ada roti tape dan sebungkus kacang kedelai. Dari tampilannya saja ngeri, bagaimana mau dimakan,” ujar Ira.
Hal senada disampaikan Very Novrianto, wali murid siswa di salah satu SMA negeri di Bandar Lampung. Ia menyebut menu MBG yang diterima anaknya hanya berupa pisang, bubur kacang hijau dalam ukuran kecil, susu kemasan kecil, serta roti tawar yang dipotong kecil-kecil.
“Bentuknya mini semua, isinya sangat sedikit sekali,” kata Very.
Menurut Very, menu yang diterima anaknya masih jauh dari memenuhi standar gizi seimbang. Ia juga menilai program tersebut terkesan lebih berorientasi bisnis dibandingkan upaya menyehatkan anak-anak sekolah.
“MBG itu seperti bisnis, bukan benar-benar untuk menyehatkan anak-anak sekolah,” tuturnya.
Para wali murid berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari standar menu, kualitas bahan makanan, hingga pengawasan distribusi. Mereka menilai pelaksanaan di lapangan harus sejalan dengan tujuan awal program demi menjamin kualitas gizi peserta didik.

