Di Google Trends Indonesia, kabar tentang Vietnam yang mempromosikan budaya dan kuliner di Chongqing, Tiongkok, ikut memantik rasa ingin tahu.
Isunya tampak sederhana, stan pameran dan sepiring lumpia.
Namun justru pada hal-hal kecil seperti itu, publik melihat sesuatu yang lebih besar.
Di tengah dunia yang tegang oleh persaingan ekonomi, citra negara sering dibangun lewat rasa, aroma, dan cerita.
Festival Musim Semi Internasional pertama di Chongqing menjadi panggungnya.
-000-
Acara ini diselenggarakan pemerintah Chongqing.
Lokasinya di Kompleks Industri Xintiandi, Distrik Yuzhong, Kota Chongqing.
Di sana, Konsul Jenderal Vietnam di Chongqing, Bui Nguyen Long, tampil bukan hanya sebagai diplomat.
Ia hadir sebagai pencerita identitas.
Bersama istrinya, Nguyen Thi Kim Trung, ia memperkenalkan lumpia dan produk konsumen Vietnam kepada tamu internasional.
-000-
Di stan Vietnam, pengunjung tidak sekadar melihat barang.
Mereka melihat cara sebuah bangsa menyusun kesan.
Produk yang diperkenalkan mencakup lumpia tradisional, kopi, buah awetan, dan kacang macadamia.
Juga ada teh, lada, kacang mete, kayu manis, adas bintang, jahe, kunyit, dan garam.
Setiap produk dibingkai sebagai kisah, bukan sekadar komoditas.
-000-
Wakil Wali Kota Chongqing Huang Maojun dan Direktur Biro Urusan Luar Negeri Chongqing Wang Wen mengapresiasi stan Vietnam.
Mereka menyatakan kekaguman dan keyakinan bahwa produk Vietnam membantu menyebarkan nilai budaya.
Pernyataan itu juga memuat harapan hubungan jangka panjang kedua negara.
Di pameran ini, pujian adalah bahasa diplomasi yang paling halus.
-000-
Selama hampir tiga hari, pameran menyambut ratusan pengunjung.
Ribuan orang datang untuk menjelajah dan merasakan cita rasa unik masakan Vietnam.
Stan Vietnam disebut menjadi sorotan utama.
Perhatian besar datang dari pengunjung Tiongkok dan internasional yang berhenti, bertanya, lalu mencicip.
-000-
Mengapa kabar seperti ini bisa menjadi tren di Indonesia.
Karena ia menyentuh kegelisahan kolektif tentang posisi kita di dunia.
Di era ketika ekspor, pariwisata, dan reputasi nasional saling mengunci, publik membaca berita ini sebagai cermin.
Vietnam sedang menunjukkan cara tampil, dan kita bertanya, bagaimana dengan Indonesia.
-000-
Ada tiga alasan utama isu ini ramai dibicarakan.
Pertama, karena kuliner adalah bahasa yang paling cepat dipahami lintas bangsa.
Sepotong lumpia dapat menembus batas yang sering gagal ditembus pidato resmi.
Ia memadatkan identitas menjadi pengalaman inderawi.
-000-
Kedua, karena panggungnya adalah Tiongkok, mitra ekonomi yang sangat berpengaruh di kawasan.
Ketika sebuah negara ASEAN mendapat sorotan di kota besar Tiongkok, publik Indonesia membaca sinyal.
Sinyal tentang akses pasar, jejaring bisnis, dan peluang pasokan.
-000-
Ketiga, karena berita ini menampilkan diplomasi yang terasa manusiawi.
Seorang konsul jenderal dan istrinya turun langsung berbagi makanan.
Gambar semacam itu mudah menyebar, mudah diingat, dan terasa dekat.
Di media sosial, kedekatan sering mengalahkan kerumitan data.
-000-
Vietnam, lewat pameran ini, menegaskan bahwa produk pertanian bukan hanya urusan panen.
Ia juga urusan narasi.
Konsulat Jenderal berharap nilai kuliner dan produk pertanian tersebar lebih luas.
Bukan hanya sebagai makanan lezat, tetapi bagian dari identitas dan kapasitas pasokan yang profesional.
-000-
Di titik ini, isu kecil berubah menjadi isu besar.
Indonesia sedang bergulat dengan pertanyaan tentang nilai tambah.
Kita kaya bahan mentah, tetapi sering kurang kuat dalam pengemasan cerita.
Padahal, di pasar global, cerita adalah pintu pertama sebelum transaksi.
-000-
Berita dari Chongqing mengingatkan bahwa kompetisi antarnegara tidak selalu tampil sebagai konflik.
Sering kali ia hadir sebagai persaingan reputasi.
Siapa yang paling dipercaya kualitasnya.
Siapa yang paling mudah diingat.
Siapa yang paling mampu membuat orang rindu untuk kembali.
-000-
Dalam kajian hubungan internasional, ada konsep yang relevan untuk membaca peristiwa ini.
Soft power.
Gagasan ini dikenal luas melalui pemikiran Joseph S. Nye.
Intinya, daya tarik budaya dan nilai dapat memengaruhi pihak lain tanpa paksaan.
Stan makanan menjadi instrumen daya tarik itu.
-000-
Soft power bekerja pelan, tetapi akumulatif.
Ia membangun asosiasi positif yang menempel lama.
Ketika pengunjung mengingat lumpia, kopi, atau rempah, mereka juga mengingat negara asalnya.
Dan ketika memori itu baik, ia membuka ruang bagi kerja sama lain.
-000-
Peristiwa ini juga dapat dibaca melalui lensa gastrodiplomacy.
Istilah ini dipakai untuk menjelaskan strategi negara mempromosikan citra melalui kuliner.
Di banyak tempat, makanan menjadi alat membangun kedekatan publik, bukan hanya elite.
Yang disentuh adalah selera, lalu emosi, lalu kepercayaan.
-000-
Di Chongqing, strategi itu terlihat dari pilihan produk.
Ada ikon wisata seperti lumpia dan kopi.
Ada pula komoditas ekspor seperti lada, mete, kayu manis, dan adas bintang.
Ini bukan kebetulan.
Ini cara menghubungkan rasa dengan rantai pasok.
-000-
Ketika pameran diikuti lebih dari 20 konsulat asing di Chongqing dan Chengdu, ruangnya menjadi kompetitif.
Setiap stan berebut perhatian yang sama.
Vietnam, menurut laporan, berhasil menjadi sorotan.
Keberhasilan semacam itu biasanya lahir dari konsistensi pesan dan pengalaman yang rapi.
-000-
Indonesia dapat mengaitkan isu ini dengan agenda besar yang sedang dibicarakan di dalam negeri.
Hilirisasi dan nilai tambah.
Jika hilirisasi bicara pabrik, maka diplomasi kuliner bicara persepsi.
Keduanya saling membutuhkan.
Produk bernilai tambah butuh pasar.
Pasar butuh keyakinan.
-000-
Isu ini juga terkait dengan daya saing UMKM dan produk pertanian.
Vietnam menampilkan barang konsumsi dan komoditas ekspor dalam satu paket cerita.
Indonesia pun punya kekuatan serupa.
Tetapi kekuatan itu memerlukan kurasi, standar, dan kesinambungan promosi.
-000-
Ada pelajaran lain yang lebih sunyi.
Diplomasi tidak selalu menunggu momen besar.
Ia bisa hadir di festival kota, di kompleks industri, di ruang yang tidak glamor.
Namun di sanalah orang biasa berkumpul.
Dan opini publik global sering dibentuk oleh orang biasa.
-000-
Referensi luar negeri yang menyerupai isu ini dapat ditemukan dalam banyak contoh gastrodiplomacy.
Salah satu yang sering dibahas adalah kampanye kuliner Thailand yang dikenal luas sebagai Global Thai.
Thailand memanfaatkan restoran dan promosi makanan untuk memperkuat citra.
Logikanya mirip, rasa menjadi duta.
-000-
Contoh lain adalah upaya Korea Selatan yang mengangkat kuliner Korea secara global.
Promosi makanan berjalan beriringan dengan budaya populer dan pariwisata.
Meski konteksnya berbeda, polanya serupa.
Ada konsistensi identitas, ada pengemasan modern, dan ada dukungan kelembagaan.
-000-
Vietnam di Chongqing menunjukkan versi mereka sendiri.
Diplomat hadir langsung, produk ditata sebagai pengalaman, dan pesan yang dibawa adalah persahabatan.
Wakil wali kota dan pejabat urusan luar negeri memberi apresiasi.
Dalam diplomasi, pengakuan resmi seperti itu adalah modal simbolik.
-000-
Lalu bagaimana sebaiknya isu ini ditanggapi di Indonesia.
Pertama, dengan membaca tren ini sebagai kesempatan refleksi, bukan sekadar kabar ringan.
Publik perlu melihat bahwa promosi budaya adalah bagian dari strategi ekonomi.
Ketika negara lain bergerak, kita perlu mengukur kesiapan kita sendiri.
-000-
Kedua, pemerintah dan pemangku kepentingan bisa memperkuat diplomasi publik berbasis pengalaman.
Pameran, festival, dan pertukaran kuliner bisa menjadi ruang yang efektif.
Namun kuncinya adalah kurasi.
Produk harus konsisten kualitasnya, narasinya jelas, dan pasokannya dapat diandalkan.
-000-
Ketiga, pelaku usaha perlu menyiapkan diri untuk peluang koneksi.
Di berita ini disebut ada banyak pertukaran dan potensi koneksi.
Potensi hanya menjadi hasil bila ditopang kesiapan standar, kemasan, dan kepatuhan regulasi.
Diplomasi membuka pintu, bisnis harus bisa melangkah.
-000-
Keempat, media dan publik sebaiknya menjaga percakapan tetap jernih.
Berita ini bukan perlombaan untuk merendahkan siapa pun.
Ia adalah bahan belajar tentang bagaimana identitas dipresentasikan.
Perbandingan boleh, tetapi harus adil dan berbasis data.
-000-
Pada akhirnya, stan Vietnam di Chongqing mengingatkan kita pada satu hal.
Di dunia yang serba cepat, yang paling bertahan adalah kesan yang paling manusiawi.
Sepiring makanan dapat menjadi jembatan, dan jembatan dapat menjadi masa depan.
Ketika hubungan antarnegara sering dibicarakan lewat angka, festival semacam ini mengembalikan unsur rasa.
-000-
Indonesia tidak kekurangan rasa.
Yang sering kurang adalah keberanian untuk menata rasa itu menjadi pesan yang konsisten.
Vietnam sedang mempraktikkan satu metode.
Kita dapat belajar tanpa harus meniru mentah-mentah.
Karena setiap bangsa punya cerita sendiri yang layak diperkenalkan.
-000-
Jika ada satu cara membaca tren ini, itu adalah ajakan untuk lebih sadar pada diplomasi sehari-hari.
Diplomasi yang tidak selalu memakai jas resmi.
Diplomasi yang kadang cukup memakai celemek, lalu menyuguhkan makanan, dan mengundang orang untuk mendengar kisah di baliknya.
-000-
Seperti kata pepatah yang kerap dikutip dalam berbagai bentuk, makna persahabatan tumbuh dari hal sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
"Kita membangun jembatan bukan dari batu terbesar, tetapi dari langkah kecil yang diulang dengan niat baik."

