BERITA TERKINI
Ketidakcukupan Pangan Masih Terjadi, Fortifikasi Dinilai Jadi Harapan Atasi Kekurangan Gizi

Ketidakcukupan Pangan Masih Terjadi, Fortifikasi Dinilai Jadi Harapan Atasi Kekurangan Gizi

Lirik lagu anak “Aku anak sehat, tubuhku kuat” kerap terdengar indah, namun belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan yang dialami banyak anak di Indonesia. Masih ada anak yang belum mendapatkan makanan bergizi. Bahkan, makan setiap hari pun tidak selalu berarti kebutuhan gizinya terpenuhi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Indonesia tercatat sebesar 8,53 persen. Angka ini menggambarkan masih adanya kelompok masyarakat yang belum memperoleh asupan pangan memadai, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Di kota-kota besar, persoalan gizi juga masih ditemukan. Di Medan, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengungkap temuan kasus gizi buruk pada seorang anak di Kecamatan Medan Denai. Menurut Rico, kasus tersebut merupakan persoalan serius yang seharusnya tidak terjadi di kota besar.

“Ada keluarga punya problem yang sejatinya tidak boleh terjadi di kota besar seperti kita ini. Apa itu, anak gizi buruk. Kalau ini tidak bisa ditoleransi,” ujar Rico di hadapan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) saat memimpin apel bersama pasca-Idul Fitri 1447 Hijriah di halaman Kantor Wali Kota Medan, Rabu (25/3/2026).

Selain Medan, wilayah yang kerap disorot terkait kasus gizi buruk adalah Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Data sebelumnya menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni dilaporkan 508 anak menderita gizi buruk dan 2.221 anak menderita gizi kurang di Provinsi Papua. Kasus tersebut tersebar di 18 kabupaten dan 1 kota, dengan jumlah gizi buruk tertinggi tercatat di Nabire (125 kasus), Merauke (124 kasus), dan Intan Jaya (105 kasus).

Situasi ini menjadi perhatian karena Papua dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang terbilang tinggi. Di sisi lain, persoalan yang juga jarang disorot adalah kelaparan tersembunyi (hidden hunger), yakni kondisi kekurangan gizi akibat rendahnya asupan vitamin dan mineral.

Dampak hidden hunger dapat berupa berat badan kurang hingga meningkatnya angka kematian pada bayi. Pada anak-anak, kondisi ini dapat menyebabkan stunting, sementara pada lanjut usia bisa meningkatkan risiko morbiditas dan kematian.

Dalam konteks harga dan akses terhadap makanan sehat yang kerap menjadi tantangan, pangan fortifikasi disebut sebagai salah satu harapan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi, terutama vitamin dan mineral, bagi kelompok masyarakat yang rentan mengalami kekurangan.