Jakarta, 7 Mei 2026 — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menghadirkan 10 jenama unggulan dari subsektor kuliner dan minuman berbasis kekayaan alam serta budaya lokal Indonesia dalam ajang Café Brasserie Expo (CBE) 2026. Partisipasi ini ditujukan untuk memperluas jejaring bisnis sekaligus memperkuat posisi produk kreatif Indonesia di pasar global.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan produk minuman Indonesia tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga membawa nilai budaya, tradisi, dan inovasi. “Produk minuman Indonesia bukan sekadar komoditas, tetapi representasi budaya, tradisi, dan inovasi. Kami ingin menunjukkan bahwa produk kreatif Indonesia mampu bersaing di pasar global dengan nilai tambah yang tinggi,” ujarnya, Kamis (7/5).
CBE 2026 berlangsung pada 7–10 Mei 2026 di Hall C1 dan C3 JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Pameran ini mengusung tema Taste Circle dengan tagline FnB & Lifestyle in One Roof.
Adapun jenama binaan yang dibawa Kementerian Ekraf dalam kegiatan ini meliputi Forest Beverage, Prospero Food, Made Tea, Sila Artisan Tea, El’s Coffee, Kalara Borneo, Battenberg Tiga Indonesia, dan Cokelatin. Selain itu, Kementerian Ekraf juga menggandeng mitra strategis Bumi Boga Laksmi dan Ramoe.
Kementerian Ekraf menyatakan seluruh jenama yang ditampilkan telah melalui proses kurasi berdasarkan kualitas produk, inovasi, dan kesiapan ekspor. Keikutsertaan ini juga didukung tren positif ekspor komoditas minuman nasional, terutama kopi. Pada 2025, nilai ekspor kopi Indonesia tercatat sekitar 2,5 miliar dolar AS dengan volume ekspor sekitar 508 ribu ton.
Indonesia disebut sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, dengan varietas unggulan Arabika dan Robusta dari Aceh hingga Papua. Keragaman cita rasa serta praktik budidaya tradisional dinilai menjadi kekuatan kopi Indonesia di pasar Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.
Selain kopi, teh Indonesia juga dinilai memiliki potensi besar sebagai produk premium dan specialty tea di pasar global. Karakter rasa yang khas disebut membuat teh Indonesia memiliki pasar ekspor yang stabil di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Kementerian Ekraf juga menyoroti peluang dari tren global gaya hidup sehat yang mendorong pertumbuhan pasar minuman fermentasi dan probiotik. Kekayaan bahan baku lokal dan tradisi fermentasi Indonesia dinilai dapat memperkuat daya saing produk di pasar wellness global.
Melalui keikutsertaan di CBE 2026, Kementerian Ekraf berharap dapat meningkatkan eksposur produk Indonesia serta membuka peluang transaksi bisnis internasional. Dukungan kepada pelaku usaha, menurut kementerian, juga terus dilakukan melalui penguatan kapasitas produksi, pengembangan branding, dan perluasan akses pasar global.

