Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menyoroti meningkatnya konsumsi makanan siap saji serta makanan olahan tinggi lemak di masyarakat. Pola makan tersebut dinilai berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan apabila tidak diimbangi dengan asupan nutrisi yang tepat.
Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Yuni Zahraini, mengatakan pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini masih didominasi karbohidrat dan lemak. Menurutnya, kondisi itu terlihat jelas di wilayah perkotaan besar seperti Jakarta dan sekitarnya, di mana gorengan menjadi pilihan yang banyak diminati.
“Kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan risiko kelebihan berat badan apabila tidak diimbangi dengan konsumsi sayur, buah, dan aktivitas fisik yang cukup,” kata Yuni dalam diskusi panel bertajuk Powering Healthy and Sustainable Diets through Inclusive Digital Transformation di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Yuni juga mengingatkan bahaya yang dapat muncul dari teknik pengolahan makanan yang populer, terutama penggunaan metode deep fry pada suhu tinggi. Proses ini dapat meningkatkan kandungan lemak pada makanan, termasuk lemak trans, yang berisiko jika dikonsumsi berlebihan.
Risiko tersebut, lanjut Yuni, diperparah oleh rendahnya konsumsi serat. Berdasarkan hasil survei kesehatan sebelumnya, sebanyak 96,7 persen penduduk Indonesia tercatat belum memenuhi standar konsumsi buah dan sayur. Akibatnya, kebutuhan vitamin, mineral, dan serat harian tidak terpenuhi secara optimal.
Sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang juga diadopsi dalam pedoman gizi seimbang nasional, setiap orang disarankan mengonsumsi minimal 400 gram buah dan sayur per hari. Rinciannya setara dengan 250 gram sayur (sekitar 2–3 porsi) dan 150 gram buah (sekitar 2–3 porsi).
Yuni menekankan, prinsip gizi seimbang tidak hanya berorientasi pada rasa kenyang. Dalam setiap porsi makanan, asupan karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral perlu hadir secara proporsional.
Ia menambahkan, ketidakseimbangan asupan gizi dalam jangka panjang berisiko meningkatkan prevalensi obesitas, terutama pada kelompok dengan aktivitas fisik rendah seperti pekerja kantoran.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes menyatakan akan terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pola makan yang beragam dan seimbang. Edukasi dilakukan melalui berbagai platform digital dan pendekatan keluarga, agar masyarakat lebih bijak memilih makanan sebagai investasi kesehatan jangka panjang.

