BERITA TERKINI
Kemenkes Ingatkan Pola Makan Sehat Selama Ramadan 1447 H, Batasi Takjil Manis Berlebihan

Kemenkes Ingatkan Pola Makan Sehat Selama Ramadan 1447 H, Batasi Takjil Manis Berlebihan

Memasuki Ramadan 1447 H/2026 M, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat lebih memperhatikan kondisi tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Menjaga daya tahan tubuh dan mengatur pola makan dinilai penting agar puasa tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kesehatan.

Imbauan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam berbagai kegiatan edukasi kesehatan publik pada awal Februari 2026. Ia menekankan perubahan pola makan dan aktivitas selama Ramadan perlu disikapi secara bijak agar tubuh tetap bugar.

Salah satu perhatian Kemenkes adalah kebiasaan berbuka dengan minuman manis dan gorengan dalam jumlah besar. Melalui akun Instagram resmi @kemenkes_ri, Kemenkes mengingatkan lonjakan gula darah dapat terjadi jika berbuka dengan asupan gula sederhana secara berlebihan.

Setelah seharian menahan lapar dan haus, tubuh memang membutuhkan energi. Namun, konsumsi sirup atau minuman tinggi gula dalam jumlah banyak sekaligus disebut dapat memicu peningkatan gula darah secara drastis. Risiko ini dinilai lebih besar bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki gangguan metabolisme.

Untuk membantu menjaga energi lebih stabil, Kemenkes menyarankan masyarakat memilih sumber karbohidrat kompleks, seperti singkong, jagung, kacang-kacangan, atau ubi jalar. Jenis makanan ini melepaskan energi secara perlahan sehingga membantu tubuh menyesuaikan diri setelah berpuasa seharian.

Kemenkes juga menilai karbohidrat kompleks tidak langsung menaikkan kadar gula darah secara tajam. Energi yang dihasilkan cenderung lebih stabil dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Ubi jalar turut disebut sebagai salah satu opsi pengganti nasi yang lebih ramah terhadap kadar gula darah serta dapat membantu menekan risiko penyakit jantung, diabetes, dan obesitas.

Selain pemilihan menu berbuka, masyarakat diimbau menjaga gizi seimbang saat sahur dan berbuka. Asupan protein, serat, vitamin, dan mineral tetap perlu diperhatikan agar stamina terjaga sepanjang hari.

Kecukupan cairan juga menjadi faktor penting untuk mencegah dehidrasi. Kemenkes mengingatkan pola makan yang terkontrol, termasuk tidak berlebihan mengonsumsi gorengan, dapat membantu menghindari gangguan pencernaan selama Ramadan.

Di sisi lain, puasa juga dikaitkan dengan dampak pada kesehatan mental. Data dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi masih cukup tinggi di Indonesia. Namun, selama Ramadan banyak individu melaporkan berkurangnya tingkat stres seiring praktik puasa dan peningkatan aktivitas spiritual.

Hal ini juga disampaikan pejabat Kemenkes dalam keterangan yang dikutip ANTARA. Puasa yang dijalankan dengan benar disebut tidak hanya memberi manfaat fisik, tetapi juga membantu menciptakan keseimbangan emosional dan spiritual.

Secara keseluruhan, Kemenkes mengingatkan puasa yang dijalankan dengan pola makan tepat dan gaya hidup sehat dapat memberikan manfaat bagi tubuh dan pikiran. Dengan memilih makanan bergizi, mengontrol konsumsi gula, serta menjaga hidrasi, ibadah Ramadan 2026 diharapkan dapat dijalankan secara optimal dan menyehatkan.