Bulan Ramadan menjadi momen penting untuk menjaga pola makan agar tubuh tetap bugar selama berpuasa. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan saat membeli dan mengonsumsi takjil, terutama yang tinggi gula dan lemak. Anjuran tersebut disampaikan melalui berbagai publikasi kesehatan Ramadan untuk mencegah gangguan pencernaan serta lonjakan gula darah setelah berbuka.
Dalam informasi edukasi kesehatan di ayosehat.kemkes.go.id, Kemenkes menjelaskan bahwa tubuh yang berpuasa seharian membutuhkan asupan yang dapat mengembalikan energi secara bertahap. Karena itu, berbuka disarankan diawali dengan makanan manis alami seperti kurma atau buah, kemudian dilanjutkan dengan makanan bergizi seimbang. Gula alami dinilai lebih dianjurkan dibandingkan minuman dengan pemanis berlebihan yang dapat memicu rasa lemas setelah dikonsumsi.
Selain kandungan gizi, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian selama Ramadan. Kemenkes menerbitkan edaran kepada dinas kesehatan daerah untuk melakukan pengawasan pangan takjil agar makanan yang dijual bebas dari bahan berbahaya, seperti pewarna tekstil, formalin, atau boraks. Masyarakat juga diminta memperhatikan kebersihan tempat penjualan serta kondisi makanan sebelum membeli.
Sejumlah pilihan takjil sehat yang sejalan dengan panduan gizi seimbang antara lain kurma dan air putih untuk membantu mengembalikan energi dan cairan tubuh, buah segar seperti semangka, pepaya, atau melon yang kaya serat dan vitamin, sup hangat rendah lemak sebagai pengantar sebelum makan utama, serta air kelapa tanpa tambahan gula sebagai sumber elektrolit alami.
Dalam pedoman gizi seimbang, Kemenkes menekankan prinsip tidak berlebihan dan tetap mengikuti pedoman Isi Piringku, yakni kombinasi karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam porsi seimbang. Dengan memilih takjil yang sehat dan aman, masyarakat diharapkan dapat menjalani ibadah Ramadan dengan kondisi tubuh yang lebih kuat serta terhindar dari gangguan kesehatan.

