BERITA TERKINI
Kasus KEK pada Ibu Hamil di Tlogosari Bondowoso Lampaui Target Nasional, Pengetahuan Gizi Jadi Faktor Dominan

Kasus KEK pada Ibu Hamil di Tlogosari Bondowoso Lampaui Target Nasional, Pengetahuan Gizi Jadi Faktor Dominan

Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi persoalan kesehatan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Bondowoso. Kondisi ini berisiko mengganggu kesehatan ibu sekaligus memengaruhi tumbuh kembang janin.

Di Kecamatan Tlogosari, prevalensi ibu hamil dengan KEK tercatat mencapai 17,67%. Angka tersebut melampaui target nasional tahun 2024 yang ditetapkan sebesar 10%. KEK pada ibu hamil diketahui meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), stunting, hingga komplikasi persalinan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.

Temuan penelitian terhadap 96 ibu hamil dengan metode case control menunjukkan pengetahuan gizi menjadi faktor yang paling dominan terkait kejadian KEK. Lebih dari 50% responden disebut memiliki pengetahuan gizi yang kurang. Analisis penelitian itu juga menyebut ibu hamil dengan pengetahuan gizi rendah memiliki risiko 7,5 kali lebih besar mengalami KEK dibandingkan mereka yang pengetahuannya baik.

Hasil tersebut menegaskan pentingnya pemahaman ibu mengenai kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Dalam praktiknya, masih banyak ibu yang mengandalkan kebiasaan makan sehari-hari tanpa mengetahui apakah asupan gizinya sudah mencukupi kebutuhan selama mengandung.

Selain pengetahuan gizi, faktor lain yang turut berpengaruh adalah kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan risiko infeksi. Penelitian yang sama menemukan ibu hamil tanpa riwayat penyakit infeksi memiliki risiko KEK yang jauh lebih rendah. Jenis infeksi yang paling sering dialami ibu hamil di Tlogosari adalah diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seperti batuk, pilek, dan demam.

Infeksi dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu penyerapan nutrisi, serta meningkatkan kebutuhan energi tubuh. Di sisi lain, masih terdapat warga yang menggunakan sungai untuk mandi dan buang air, sehingga risiko terpapar penyakit infeksi menjadi lebih tinggi.

Dampak KEK dinilai tidak sebatas kurang makan, karena dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi anak, mulai dari berat lahir rendah, stunting, gangguan perkembangan otak dan kecerdasan, hingga peningkatan risiko penyakit kronis saat dewasa. Di Kabupaten Bondowoso, angka stunting dilaporkan mencapai 32% dan termasuk yang tertinggi di Jawa Timur, sementara KEK disebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka tersebut.

Upaya pencegahan KEK dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan. Langkah yang disorot antara lain penguatan edukasi gizi bagi ibu hamil melalui konseling rutin saat pemeriksaan kehamilan, serta penyediaan media edukasi yang mudah dipahami masyarakat. Perbaikan kebersihan diri dan lingkungan juga ditekankan, termasuk memastikan akses jamban sehat dan membiasakan cuci tangan pakai sabun untuk menekan risiko infeksi.

Tenaga kesehatan dan kader posyandu disebut berperan penting dalam pemantauan berkala, seperti deteksi dini risiko serta pemberian makanan tambahan sesuai kebutuhan. Kolaborasi antara puskesmas, kader, dan keluarga dinilai menjadi kunci untuk menekan KEK dan mendukung kesehatan ibu serta bayi.

Penanganan KEK pada ibu hamil juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan Good Health and Well-Being serta Zero Hunger yang menekankan peningkatan kualitas gizi. Pemenuhan gizi yang memadai selama kehamilan dipandang berperan dalam menurunkan risiko komplikasi persalinan dan mencegah stunting. Dengan menekan angka KEK, wilayah dengan prevalensi stunting tinggi seperti Bondowoso dinilai memiliki peluang lebih besar memutus rantai kekurangan gizi antargenerasi dan mendukung pembangunan kesehatan berkelanjutan.