Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi Muslim yang telah memenuhi syarat, termasuk dari sisi usia dan kondisi kesehatan. Namun, di banyak keluarga, anak-anak kerap mulai dikenalkan dengan puasa sejak dini. Pertanyaan yang sering muncul adalah kapan anak dinilai siap menjalani puasa penuh sepanjang hari hingga waktu berbuka.
Dari sudut pandang medis, kesiapan anak untuk berpuasa tidak ditentukan semata-mata oleh usia, melainkan juga kondisi fisik, berat badan, dan kesehatan secara umum. Dokter spesialis anak di American Hospital Dubai, Dr. Abeer Khayat, menyebut anak yang sehat umumnya dapat mulai mencoba puasa penuh sekitar usia 10 tahun. Meski begitu, ia menekankan agar orang tua tidak memaksakan apabila anak merasa lelah atau tidak sanggup, karena kesiapan setiap anak dapat berbeda.
Khayat menegaskan keselamatan anak harus menjadi prioritas. Jika anak ingin mencoba berpuasa, orang tua dapat mengizinkan, tetapi ketika anak sedang sakit atau kondisi kesehatannya menurun, puasa sebaiknya tidak dilanjutkan. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah risiko seperti dehidrasi atau gangguan metabolisme.
Selain itu, anak yang memasuki masa pubertas atau sekitar usia 15 tahun umumnya sudah mampu berpuasa seperti orang dewasa. Meski demikian, kesiapan fisik dan mental, serta dukungan pola makan seimbang tetap menjadi faktor penting agar puasa dapat dijalani tanpa menimbulkan gangguan kesehatan.
Di Indonesia, perhatian terhadap kecukupan gizi anak selama Ramadan juga menjadi sorotan. Ahli gizi Universitas Hasanuddin, Dr. Lucy Widasari, M.Si, mengingatkan orang tua untuk memperhatikan menu sahur dan berbuka agar anak tetap mendapatkan energi dan cairan yang memadai. Ia juga menilai pendekatan bertahap bagi anak yang ingin berpuasa dapat membantu tubuh beradaptasi sekaligus mengurangi risiko dehidrasi maupun kekurangan gizi.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, turut menekankan pentingnya pengawasan orang tua dan pola makan seimbang selama Ramadan. Menurutnya, anak yang sehat dapat mulai berpuasa dengan durasi bertahap sesuai kemampuan tubuh agar pengalaman berpuasa tetap aman dan positif.
Secara umum, para ahli menekankan bahwa keselamatan dan kesejahteraan anak perlu ditempatkan sebagai pertimbangan utama. Edukasi gizi, pemantauan kondisi kesehatan, serta pengaturan pola puasa yang sesuai kemampuan anak menjadi kunci agar ibadah dapat dijalani dengan aman sekaligus mendukung pembelajaran agama sejak dini.

