Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember membangun kawasan wisata kuliner malam atau street food yang dirancang terintegrasi, menghubungkan Stasiun Jember, sentra kuliner, hingga Alun-alun dalam satu kawasan wisata perkotaan. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada Desember 2026.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan pembangunan tersebut bukan sekadar memindahkan pedagang kaki lima (PKL), melainkan bagian dari penataan wajah kota yang terhubung dari kawasan Stasiun Jember hingga pusat kota. PKL nantinya dipusatkan di satu kawasan di sepanjang Jalan Kartini dan Jalan Gatot Subroto serta terintegrasi hingga Stasiun Jember.
“Target kami bulan Desember sudah bisa diresmikan dan dibuka untuk masyarakat. Kami ingin menghadirkan pusat keramaian baru di Jember, mulai dari sentra kuliner, spot foto, sampai ruang hiburan bagi masyarakat,” kata Fawait, Selasa (14/7/2026).
Menurut Fawait, progres fisik pembangunan saat ini baru mencapai sekitar 25 persen. Meski demikian, ia optimistis proyek dapat selesai sesuai target pada akhir tahun 2026.
Fawait menyebut kawasan street food itu tidak hanya menawarkan deretan kuliner kaki lima yang lebih tertata, tetapi juga dilengkapi panggung pertunjukan, area pedestrian, pencahayaan, serta sistem pengelolaan kebersihan dan keamanan yang terintegrasi. Pemkab Jember juga menyiapkan gerobak usaha dengan desain seragam agar kawasan memiliki identitas visual yang lebih rapi dan menarik.
“Kami siapkan tim khusus yang mengatur keamanan, lalu lintas, hingga kebersihan. Jadi masyarakat bisa menikmati kawasan ini dengan nyaman,” ujarnya.
Fawait menilai keberadaan kawasan street food tersebut akan memperkuat daya tarik wisata perkotaan Jember. Konsep yang diusung adalah menghubungkan kawasan Stasiun Jember yang telah direvitalisasi dengan pusat kota melalui jalur pedestrian, sehingga wisatawan dapat berjalan kaki menikmati berbagai destinasi. Ia menyebut konsep pengembangannya terinspirasi dari kawasan Malioboro di Yogyakarta.
“Ke depan, orang yang turun dari Stasiun Jember cukup berjalan kaki untuk menikmati kuliner, ruang publik, kemudian terhubung sampai Alun-alun. Kami ingin kawasan ini menjadi satu kesatuan destinasi wisata kota,” katanya.
Selain menjadi tujuan wisata, Pemkab Jember berharap kawasan tersebut mampu menghidupkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM dan PKL. Fawait juga memastikan penataan dilakukan tanpa mengabaikan kepentingan warga sekitar. Menurut dia, hadirnya kawasan kuliner baru berpotensi meningkatkan nilai ekonomi di sekitar Jalan Kartini dan Jalan Gatot Subroto karena lingkungan menjadi lebih tertata, bersih, dan ramai dikunjungi.
“Ini bukan sekadar penataan PKL, tetapi menciptakan kawasan yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jember Arif Liyantono mengatakan pembangunan dilakukan dengan skema khusus karena lokasi proyek berada di dekat rumah ibadah. Kontraktor menerapkan sistem kerja dua shift untuk mengejar target penyelesaian, namun aktivitas alat berat dihentikan ketika gereja di sekitar lokasi menggelar ibadah.
“Kami berkomitmen pembangunan ini tidak hanya berhasil secara fisik, tetapi juga tetap menghormati aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat sekitar. Karena itu jadwal pekerjaan selalu disesuaikan dengan kegiatan gereja,” kata Arif.
Ia menambahkan, pengawas proyek rutin berkoordinasi dengan pengurus gereja untuk menyinkronkan jadwal pekerjaan setiap pekan. “Harapannya, proyek selesai tepat waktu sekaligus tetap menjaga kondusivitas lingkungan,” pungkasnya.

