BERITA TERKINI
Jejak Sejarah Hari Kusta Sedunia: Diprakarsai 1954, Diingatkan pada Akhir Januari

Jejak Sejarah Hari Kusta Sedunia: Diprakarsai 1954, Diingatkan pada Akhir Januari

Hari Kusta Sedunia pertama kali diprakarsai pada 1954 oleh Raoul Follereau, jurnalis sekaligus aktivis kemanusiaan asal Prancis. Follereau dikenal mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak dan martabat para penyintas kusta di berbagai negara.

Ia memilih Minggu terakhir bulan Januari sebagai waktu peringatan untuk mengenang Mahatma Gandhi. Tokoh dunia tersebut dikenal memiliki kepedulian besar terhadap penderita kusta, termasuk merawat dan membela para penyintas di India. Gandhi wafat pada 30 Januari 1948.

Sejak ditetapkan, Hari Kusta Sedunia diperingati setiap tahun di berbagai belahan dunia. Peringatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kusta sekaligus mendorong penghapusan stigma dan diskriminasi yang kerap dialami penyintas dalam kehidupan sosial.

Secara medis, kusta merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menegaskan bahwa kusta dapat disembuhkan, terutama jika ditangani sejak dini melalui pengobatan multidrug therapy (MDT) yang tersedia secara luas.

Karena itu, pesan kemanusiaan terus menjadi bagian penting dari peringatan Hari Kusta Sedunia. Tema global yang diangkat dari tahun ke tahun menekankan bahwa tantangan terbesar kusta saat ini bukan lagi pada pengobatan, melainkan penerimaan sosial dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Di Indonesia, peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat edukasi publik. Upaya ini mencakup pemahaman bahwa kusta tidak mudah menular, dapat disembuhkan, dan penyintas berhak hidup setara tanpa stigma.

Lebih dari sekadar peringatan medis, Hari Kusta Sedunia mengajak masyarakat memandang kesehatan sebagai isu yang juga berkaitan dengan empati dan keadilan sosial. Sejarah penetapannya mengingatkan bahwa perjuangan melawan penyakit tidak bisa dilepaskan dari upaya melawan prasangka.

Seiring peringatan pada 25 Januari, pesan Hari Kusta Sedunia kembali relevan untuk terus disuarakan: pengetahuan membantu menyembuhkan penyakit, sementara empati membantu memulihkan luka sosial.