PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menyelenggarakan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 sebagai upaya memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak. Ajang yang digelar untuk ketiga kalinya ini mengusung tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan.”
Salah satu implementasi program JAPFA for Kids berlangsung di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.
Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, menyatakan program JAPFA for Kids merupakan komitmen berkelanjutan perusahaan untuk mendukung tumbuh kembang anak Indonesia. Ia menekankan pentingnya memastikan anak memperoleh asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.
Menurut Rachmat, penyelenggaraan AKJJ 2026 juga menjadi langkah untuk mempererat kolaborasi dengan media guna meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pemenuhan gizi anak.
Persoalan gizi anak di Indonesia masih menjadi tantangan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Data JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi ini dinilai menegaskan bahwa malagizi masih nyata dan membutuhkan pendekatan berkelanjutan serta melibatkan banyak pihak.
Hingga 2025, program JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Program tersebut juga mencatat perkembangan pada perbaikan status gizi siswa. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk meningkat menjadi gizi baik atau sekitar 51,5 persen. Pada 2025, angka perbaikan meningkat menjadi 646 dari 1.034 siswa atau 62,5 persen.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan JAPFA for Kids dijalankan melalui strategi terintegrasi. Bentuk intervensinya meliputi pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, serta pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. Program juga mencakup edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, hingga monitoring berkala agar dampaknya dapat diukur secara konsisten.
Retno menilai edukasi menjadi kunci keberhasilan intervensi kesehatan, termasuk dalam upaya menekan anemia pada remaja. Ia menyebut adanya pilot project JAPFA di sekolah menengah di Jakarta yang mendukung program pemerintah terkait konsumsi tablet penambah darah bagi remaja putri.
Sementara itu, pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., menegaskan edukasi gizi perlu diberikan sedini mungkin, terutama pada masa awal kehidupan anak. Menurutnya, dua tahun pertama kehidupan merupakan periode penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.
“Pertumbuhan tinggi badan memang masih berlangsung hingga usia remaja, tetapi perkembangan otak mencapai sekitar 90 persen pada usia lima tahun. Karena itu, pemenuhan gizi sejak dini sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak,” kata Sandra.

