BERITA TERKINI
JAPFA for Kids Catat Perbaikan Status Gizi Siswa, 62,5% Anak Malagizi Naik ke Gizi Baik pada 2025

JAPFA for Kids Catat Perbaikan Status Gizi Siswa, 62,5% Anak Malagizi Naik ke Gizi Baik pada 2025

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk melalui program JAPFA for Kids melaporkan perbaikan status gizi siswa di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur. Memasuki usia 18 tahun, program ini mencatat peningkatan status gizi pada anak-anak yang sebelumnya berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk.

Berdasarkan data JAPFA, pada 2025 terdapat 646 dari 1.034 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk yang meningkat menjadi gizi baik, atau setara 62,5 persen. Sementara pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa atau 51,5 persen juga mengalami peningkatan status gizi menjadi lebih baik.

Program JAPFA for Kids menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 yang digelar di Surabaya, Selasa (19/5/2026). Tahun ini, AKJJ mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Rachmat Indrajaya, menyampaikan pemenuhan gizi anak merupakan bagian penting dalam membangun kualitas generasi penerus bangsa. Ia mengatakan JAPFA for Kids dijalankan sebagai komitmen berkelanjutan perusahaan untuk mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak.

Rachmat menilai masa depan Indonesia berawal dari anak-anak yang memperoleh asupan gizi baik dan tumbuh di lingkungan yang sehat. “Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya masa depan Indonesia dimulai dari anak-anak yang mendapatkan asupan gizi baik dan tumbuh dalam lingkungan sehat,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun masih masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara data internal JAPFA pada tujuh lokasi pelaksanaan program tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami kondisi serupa.

JAPFA menyebut kondisi tersebut mendorong penguatan intervensi melalui JAPFA for Kids. Hingga 2025, program ini dilaporkan telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota pada 28 provinsi di Indonesia.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan program dijalankan melalui strategi terintegrasi, termasuk pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi. Selain itu, dilakukan pemantauan rutin berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta pembiasaan pola hidup sehat lewat program Hari Sehat JAPFA.

“Program ini dirancang agar dampaknya dapat terukur secara konsisten, termasuk melalui monitoring berkala terhadap perkembangan status gizi siswa,” kata Artsanti.

Di Jawa Timur, implementasi JAPFA for Kids dilakukan di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, dengan melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., menilai edukasi publik terkait gizi seimbang masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, dan pembiasaan hidup sehat sejak usia dini.

AKJJ 2026 kembali digelar untuk ketiga kalinya sebagai bentuk kolaborasi JAPFA bersama media dalam memperluas edukasi publik mengenai isu gizi anak. Dalam ajang tersebut, JAPFA menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional, di antaranya jurnalis senior sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, serta Prof. Sandra Fikawati.