Zahroh Melani, ibu rumah tangga asal Perumahan Griya Tiara Asri 2 Blok G.19, Kalisapu, Kabupaten Tegal, mengembangkan usaha jajanan tradisional yang dirintisnya sejak sebelum pandemi. Ia memproduksi tiga jenis camilan, yakni mie lidi, makaroni, dan rambut nenek, serta melibatkan ibu-ibu di lingkungan sekitar untuk membantu produksi.
"Ada tiga makanan tradisional yang kami kembangkan seperti jajanan mie lidi, makaroni dan rambut nenek," ujar Zahroh Melani, Jumat (4/6/2021).
Tiga produk jajanan yang dikembangkan
Melani menjelaskan, rambut nenek merupakan jajanan berbahan gula yang kini semakin jarang ditemui. Disebut rambut nenek karena awalnya berwarna putih dan menyerupai rambut. Seiring waktu, produk tersebut dibuat dengan tambahan pewarna makanan dan aneka rasa buah, termasuk varian warna pelangi seperti merah, kuning, ungu, dan hijau dengan pewarna yang aman dikonsumsi.
Bahan pembuatan rambut nenek terdiri dari gula, tepung terigu, pewarna makanan, dan air, dengan pilihan rasa anggur, stroberi, nanas, melon, serta original.
Selain itu, ia juga memproduksi mie lidi atau lidi-lidian, camilan yang dikenal sebagai jajanan masa sekolah pada era 1990-an. Mie lidi dibuat dari tepung yang dicetak hingga menyerupai lidi, lalu dikembangkan dengan konsep dan pilihan rasa yang lebih beragam.
- Varian rasa mie lidi: pedas, keju, jagung bakar, jagung manis, balado, sapi panggang, ayam bakar.
Produk ketiga adalah makaroni goreng. Makaroni, yang berbentuk seperti pipa kecil melengkung, diolah menjadi camilan dengan tambahan bumbu sesuai selera.
- Varian rasa makaroni: pedas, keju, jagung bakar, balado.
Dari pegawai bank hingga merintis usaha rumahan
Sebelum menekuni usaha jajanan, Melani sempat bekerja sebagai pegawai bank. Ia memutuskan keluar pada 2016 untuk fokus menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak di rumah, namun tetap ingin memiliki penghasilan.
Setelah keluar dari pekerjaan di bank, Melani sempat mencoba usaha jualan batik yang bertahan sekitar satu tahun. Ia mengaku usaha tersebut mengalami kendala keuangan karena sistem pembayaran yang tidak lancar dari pembeli.
Setelah mengalami kerugian, ia beralih ke usaha jajanan tradisional. Ide itu muncul dari kebiasaan anaknya yang menyukai rambut nenek dan dirinya yang menyukai mie lidi. Ia kemudian mulai memasarkan produk melalui media sosial. Seiring meningkatnya minat, ia belajar membuat sendiri mie lidi dan rambut nenek, lalu terus mengembangkannya, termasuk menambah produk makaroni.
Penjualan turun saat pandemi, lalu bangkit lewat kemasan dan pelatihan
Melani menyebut, sebelum pandemi, penjualan usahanya dapat mencapai sekitar 1.000–1.500 bungkus per bulan dan sempat mempekerjakan dua ibu rumah tangga. Namun saat pandemi melanda, penjualan turun drastis. Pada periode Maret hingga Oktober 2020, dalam satu bulan ia hanya mampu menjual sekitar 50 bungkus.
Untuk mengatasi penurunan tersebut, ia mengubah kemasan produk dan mengikuti pelatihan gratis terkait pemasaran serta hal lain melalui pertemuan daring yang diselenggarakan dinas dan lembaga terkait. Ia mengatakan, perubahan kemasan sebenarnya sudah lama direncanakan, tetapi sempat tertunda karena biaya.
Pada November 2020, ia memutuskan mencari pinjaman untuk mengganti kemasan dan kembali mengikuti pelatihan daring guna menambah pengetahuan, jaringan, dan strategi pemasaran. Menurutnya, langkah itu membantu usaha kembali berkembang.
Sejak akhir 2020 hingga saat ini, ia menyebut penjualan meningkat menjadi sekitar 2.000–2.500 bungkus per bulan. Melani yang kini berusia 35 tahun juga kembali merekrut karyawan, khususnya ibu-ibu di lingkungannya, sebanyak lima orang.
Harga dan jangkauan pemasaran
Harga produk mie lidi, rambut nenek, dan makaroni berada pada kisaran Rp10.000 hingga Rp24.000 per bungkus. Pemasaran dilakukan melalui media sosial dengan jangkauan pasar dari Pulau Jawa hingga Bali, menggunakan merek Arumi.
Dalam strategi penjualannya, Melani mengandalkan jaringan distributor, agen, dan reseller, dengan perbedaan skema berdasarkan jumlah pembelian atau jumlah pesanan.

