Hotel Victoria Can Tho, Vietnam, menggelar Escoffier Gastronomic Weekend pada Maret 2026. Program ini dirancang untuk merayakan warisan kuliner sekaligus menghadirkan pengalaman bersantap baru melalui kolaborasi sejumlah koki internasional, yakni Sakal Phoeung, David Lacroix, Victor Ceano Savall, dan Olivier Corti.
Puncak kegiatan menampilkan perpaduan keunggulan kuliner Prancis dan Vietnam untuk menciptakan hidangan baru berbasis bahan-bahan lokal dari Delta Mekong. Para koki menyiapkan sajian secara langsung di lokasi dengan menerapkan metode dan teknik memasak yang mereka bawa dari pengalaman internasional.
Direktur Hotel Victoria Can Tho, Vo Xuan Thu, menyebut program ini sebagai upaya mendiversifikasi pengalaman bagi tamu hotel maupun masyarakat setempat. Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan pengalaman dan nilai produk pertanian Can Tho dan Delta Mekong ke standar santapan mewah. Menurutnya, penggunaan bahan lokal oleh koki internasional menunjukkan bahwa hidangan inovatif dapat diciptakan dengan mengombinasikan bahan setempat dan kekuatan masakan internasional, sekaligus membantu menyebarluaskan dan meningkatkan nilai kuliner lokal.
Dalam acara itu, sejumlah bahan yang akrab di Delta Mekong seperti bebek, katak, dan udang diolah menjadi menu yang memadukan esensi masakan Vietnam dan Prancis. Beberapa hidangan dinamai berdasarkan bahan lokal, salah satunya Dada Bebek Long An Kering Berlapis Glasir karya Chef David Lacroix.
Chef David Lacroix menjelaskan, hidangan tersebut menggunakan dada bebek Long An yang dikeringkan selama 14 hari, kemudian digoreng dan disajikan bersama saus madu asam jawa, krim kol ungu, akar teratai goreng, serta garam wijen.
Sakal Phoeung, koki Prancis yang juga Presiden Asosiasi Escoffier Vietnam dan pemilik dua restoran Le Corto serta P'ti Saigon, menilai Delta Mekong—khususnya Can Tho—memiliki sumber bahan pangan yang melimpah dari sungai dan lahan pertanian. Ia mengaku mencari bahan-bahan setempat dan mengembangkan resep baru, termasuk risotto labu dengan kaki katak yang menggunakan katak Mekong serta rempah yang mudah ditemukan di wilayah tersebut. Ia juga menyebut menikmati proses penelusuran bahan lokal, termasuk kunjungan ke perkebunan kakao di Can Tho.
Sejumlah pengunjung menyampaikan apresiasi terhadap pengalaman kuliner yang ditawarkan. Bertrand Philippe dan Thieffin Valerie, wisatawan asal Prancis, mengatakan mereka memperpanjang masa tinggal di Victoria Can Tho setelah mengetahui ada acara tersebut. Mereka menilai para koki mengolah bahan lokal dengan terampil dan kreatif sehingga menghasilkan cita rasa yang unik, dan memberi penilaian tinggi untuk pengalaman makan malam itu. Wisatawan Swiss, Sandra Petit, juga menyebut pengalaman yang ia rasakan luar biasa, dengan hidangan dan produk lokal yang segar serta perpaduan rasa yang dinilai harmonis.
Antusiasme juga datang dari pengunjung Vietnam. Nguyen Thi Truc Quan, wisatawan dari An Giang, mengaku terkesan dengan suasana tempat, dekorasi, musik, dan pencahayaan. Ia menyoroti kombinasi kreatif masakan Vietnam dan Prancis, serta pemanfaatan bahan yang familiar seperti ikan segar, katak, udang, dan bebek dari Delta Mekong yang diolah dengan teknik profesional. Ia berharap kegiatan serupa lebih sering digelar untuk memperkenalkan jiwa kuliner Vietnam kepada masyarakat internasional.
Warga setempat, Tran Thanh Dat dari Kelurahan Ninh Kieu, Kota Can Tho, menilai para koki berhasil menyampaikan nilai bahan-bahan dari Delta Mekong melalui teknik profesional yang menghasilkan hidangan unik. Ia berpendapat wilayah Delta Mekong dan Can Tho masih membutuhkan lebih banyak kegiatan semacam ini untuk meningkatkan pengalaman wisatawan dan mempromosikan nilai kuliner lokal, sehingga dapat mendorong pengembangan pariwisata.
Vo Xuan Thu menambahkan, program yang baru dimulai itu mendapatkan respons positif dari tamu hotel dan masyarakat setempat. Menurutnya, hal tersebut menjadi sinyal untuk mengadakan acara serupa lebih sering, sekaligus menjadi wadah bagi para koki meningkatkan keterampilan, mempromosikan nilai produk pertanian lokal, dan membentuk identitas baru bagi kuliner setempat saat memasuki panggung internasional.

