Hari kedua Yummy Expo 2026 dibuka dengan rangkaian sesi yang menyoroti perkembangan brand kuliner lokal, mulai dari pengalaman interaktif, diskusi strategi ekspansi, hingga penguatan standar halal sebagai fondasi kepercayaan konsumen.
Sesi Cookversation bertajuk “Home Café Experience” menghadirkan pengalaman meracik kopi ala kafe di rumah melalui kolaborasi Frisian Flag dan KRUPS. Pengunjung diajak memahami proses pembuatan kopi secara menyeluruh, dari pemilihan biji, teknik ekstraksi menggunakan mesin, hingga menghasilkan tekstur susu yang creamy untuk membuat sajian seperti Kopi Susu Gula Aren dan Montblanc dengan kualitas layaknya di kafe profesional. Dalam kolaborasi tersebut, Frisian Flag menekankan peran produk susu dalam membangun rasa dan tekstur minuman, sementara KRUPS menampilkan teknologi mesin kopi yang ditujukan untuk membantu proses peracikan agar lebih praktis dan konsisten di rumah.
Wawasan mengenai pertumbuhan brand lokal kemudian diperdalam melalui sesi Table Talks “Local Stories, Global Impact: From Local Roots to Global Reach”. Diskusi ini dimoderatori Alvin Pranata dan menghadirkan Donny Pramono (Owner Sour Sally) serta Cikhita Virginia (Ketua HIPMI Culinary Indonesia), bersama pelaku industri lainnya. Donny menekankan pentingnya fondasi bisnis yang kuat untuk menembus pasar global. “Untuk bisa berkembang ke pasar global, brand lokal perlu memastikan fondasi bisnisnya kuat terlebih dahulu. Konsistensi kualitas, diferensiasi produk, dan positioning yang jelas menjadi kunci agar brand tidak hanya relevan di pasar lokal, tetapi juga mampu bersaing secara global,” ujar Donny Pramono, CEO of Sour Sally Group.
Cikhita menambahkan bahwa potensi brand lokal untuk naik kelas juga dipengaruhi dukungan ekosistem yang kolaboratif. “Potensi brand lokal untuk naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas sangat besar. Namun, hal ini perlu didukung oleh ekosistem yang kolaboratif, di mana pelaku usaha dapat saling belajar, bertumbuh, dan memperkuat daya saing,” kata Cikhita Virginia.
Selain membahas penguatan bisnis, Yummy Expo 2026 juga menampilkan eksplorasi inovasi menu lokal melalui sesi Cookversation oleh Unilever Food Solutions (UFS). Dalam sesi tersebut, menu “Ayam Kremes Sambal Tangkap” diangkat sebagai contoh pengembangan sajian lokal agar lebih inovatif dan memiliki daya tarik yang lebih luas. Pengunjung mendapatkan paparan mengenai pengolahan bahan, teknik memasak, serta pentingnya inovasi agar menu tetap relevan dengan selera konsumen.
Isu standar halal turut menjadi perhatian lewat sesi “Halal Beyond Food: Dari bahan, Peralatan hingga Dapur” yang menghadirkan perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), homLiv, dan Potteria. Diskusi menekankan penerapan halal secara menyeluruh di rantai produksi, tidak hanya pada produk akhir, tetapi sejak pemilihan bahan baku, penggunaan peralatan, hingga proses pengolahan di dapur.
drg. Deden Edi S., Direktur LPPOM DKI Jakarta, menyatakan penerapan halal perlu dipandang sebagai sistem terintegrasi. “Mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga peralatan yang digunakan, semuanya harus memenuhi standar agar kehalalan dapat terjamin secara menyeluruh,” ujarnya. Sementara itu, Yudiana Lyn, CEO homLiv, menilai standar halal juga mencerminkan komitmen pelaku usaha terhadap kualitas. “Ini bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan konsumen yang kini semakin memperhatikan proses di balik sebuah produk,” katanya.
Monica Liefanny, Co-Founder & COO Potteria, menyoroti pentingnya konsistensi implementasi di lapangan. “Dalam praktiknya, memastikan standar halal di dapur membutuhkan perhatian pada detail, mulai dari pemilihan bahan hingga penggunaan peralatan. Konsistensi ini menjadi kunci dalam menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan,” tutupnya.
Melalui rangkaian agenda hari kedua, Yummy Expo 2026 menegaskan perannya sebagai platform yang menghadirkan pengalaman kuliner sekaligus wadah berbagi wawasan, mendorong inovasi, dan memperkuat daya saing brand lokal di tengah industri yang kian kompetitif.

