Harga solar yang masih tinggi terus memberi tekanan besar pada banyak perekonomian di Afrika. Solar menjadi bahan bakar utama di berbagai sektor, mulai dari transportasi barang lintas batas, pengoperasian generator di tengah pasokan listrik yang kerap tidak stabil, mekanisasi pertanian, hingga kegiatan industri dan konstruksi. Karena perannya yang luas, setiap kenaikan harga solar cepat merembet ke banyak bidang.
Sejumlah pengamat menilai, mahalnya solar mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi. Biaya tersebut kemudian dibebankan pelaku usaha kepada konsumen. Dampaknya terasa lebih berat bagi negara-negara yang tidak memiliki akses ke laut atau sangat bergantung pada impor, karena kenaikan ongkos distribusi ikut mengerek harga barang kebutuhan pokok dan melemahkan daya beli rumah tangga sejak awal tahun.
Di sektor pertanian, solar dibutuhkan untuk mengoperasikan mesin, memompa air untuk irigasi, mendukung proses panen, serta mengangkut hasil produksi. Ketika harga solar naik, biaya produksi ikut meningkat. Kondisi ini dinilai dapat memperburuk inflasi pangan dan meningkatkan risiko kerawanan pangan di sejumlah negara Afrika.
Tekanan juga dirasakan dunia usaha, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), yang masih bergantung pada generator diesel akibat jaringan listrik yang tidak stabil. Kenaikan harga bahan bakar meningkatkan biaya operasional, menekan keuntungan, membatasi perluasan produksi, dan dalam beberapa kasus dapat memicu pengurangan jam kerja atau tenaga kerja.
Data GlobalPetrolPrices menunjukkan harga solar di beberapa negara Afrika belakangan berfluktuasi dengan arah yang berbeda-beda, namun secara umum tetap lebih tinggi dibanding rata-rata global. Para ahli memperingatkan, bila tren ini berlanjut, tekanan inflasi di Afrika berpotensi semakin sulit dikendalikan pada 2026.

