BERITA TERKINI
Harga Biji Kopi Naik dan Pasokan Terbatas, Pelaku Usaha Kopi di Bali Hadapi Tekanan Berlapis

Harga Biji Kopi Naik dan Pasokan Terbatas, Pelaku Usaha Kopi di Bali Hadapi Tekanan Berlapis

DENPASAR — Industri kopi di Bali menghadapi tantangan yang kian kompleks. Di tengah bertambahnya jumlah kedai kopi dan roastery yang memicu persaingan makin ketat, pelaku usaha juga dibebani kenaikan harga bahan baku serta kekhawatiran terhadap keterbatasan pasokan kopi.

Founder Expat Roasters, Yande J. Wirawan, mengatakan pertumbuhan industri kopi dalam beberapa tahun terakhir mendorong kebutuhan bahan baku terus meningkat, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Namun, pasokan kopi dinilai belum mampu mengimbangi tingginya permintaan.

“Roastery sekarang semakin banyak. Persaingan semakin ketat. Di sisi lain kebutuhan kopi untuk pasar lokal dan internasional juga terus meningkat,” ujar Yande, Minggu (28/6/2026).

Ia juga menyoroti tantangan keberlanjutan pasokan dari sisi regenerasi petani. Menurutnya, tidak semua generasi muda berminat melanjutkan usaha keluarga sebagai petani kopi, sehingga dikhawatirkan dapat memengaruhi produksi dalam jangka panjang.

Yande menjelaskan, harga biji kopi hijau (green bean) saat ini sangat bergantung pada daerah asal atau origin. Kisaran harganya disebut mulai dari Rp80 ribu hingga Rp250 ribu per kilogram.

“Tergantung origin-nya. Ada yang Rp80 ribu, Rp150 ribu, Rp200 ribu, sampai Rp250 ribu per kilogram,” katanya.

Kenaikan harga bahan baku juga dirasakan pelaku usaha kedai kopi. Owner Jenar Kopi, Munir, menyebut harga kopi telah mengalami beberapa kali penyesuaian sepanjang setahun terakhir. Bahkan, pada bulan ini saja terjadi kenaikan sekitar 7 hingga 8 persen.

“Dalam setahun ini sudah beberapa kali naik. Terakhir sekitar 7 sampai 8 persen bulan ini,” ujarnya.

Munir menilai kenaikan biaya produksi membuat margin keuntungan semakin menipis. Namun, ruang untuk menaikkan harga jual dinilai terbatas karena pelaku usaha harus tetap menjaga daya saing dan kualitas produk agar pelanggan tidak beralih ke kompetitor.

Selain persoalan bahan baku, Munir menyebut tantangan terbesar industri makanan dan minuman saat ini juga datang dari pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Tingginya pergantian karyawan membuat pelaku usaha perlu terus melakukan pelatihan dan penyesuaian operasional.

“Yang paling berat itu SDM. Sering ganti-ganti. Tapi lama-lama kita belajar bagaimana maintenance sumber daya manusianya,” katanya.

Sementara itu, Owner 2080 Burger Heru Soesilo menilai bertambahnya pemain baru di sektor kuliner turut memperketat persaingan. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut pelaku usaha lebih disiplin dalam mengendalikan biaya operasional, mengawasi stok, serta meminimalkan potensi kebocoran transaksi agar usaha tetap bertahan di tengah tekanan biaya dan kompetisi yang meningkat.