Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Sahid Teguh Widodo, memaparkan jejak warisan rempah dan jamu yang terekam dalam manuskrip Jawa kuno. Paparan tersebut disampaikan dalam webinar Jalur Rempah yang digelar Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada Jumat (3/7/2020), melalui Zoom Meeting dan siaran kanal YouTube selama sekitar dua jam.
Prof. Sahid, yang juga menjabat Kepala Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi UNS, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki warisan benda yang beragam, termasuk yang berkaitan dengan jejak rempah. Ia mengatakan, Javanologi UNS berupaya melakukan riset pelacakan pengetahuan warisan dan memublikasikannya melalui berbagai forum akademik serta kegiatan tri dharma perguruan tinggi.
Kesulitan menerjemahkan naskah kuno
Menurut Prof. Sahid, banyak naskah di lingkungan UNS memuat informasi pengobatan. Timnya juga memperoleh bantuan berupa lontar usada. Namun, ia menekankan tantangan utama yang dihadapi adalah proses penerjemahan karena kondisi naskah yang sudah rusak akibat usia ratusan tahun.
Selain itu, bahasa yang digunakan merupakan bahasa lama seperti Bali kuno dan Jawa kuno, termasuk ragam bahasa dengan idiom yang sulit dijelaskan secara semiotik. Ia menyebut adanya lakuna dan adisi dalam teks, sehingga membutuhkan waktu untuk membongkar isi manuskrip.
Jejak jamu dalam relief dan prasasti
Dalam paparannya, Prof. Sahid menyebut Indonesia sebagai negeri yang “gemah ripah loh jinawi”, idiom Jawa yang berarti tenteram, makmur, dan tanahnya subur sehingga menjadi tempat yang mendukung tumbuhnya tanaman obat. Jejak rempah yang dimaksud, kata dia, merujuk pada data atau informasi yang terdapat dalam berbagai manuskrip Jawa kuno.
Ia juga menyampaikan bahwa kebiasaan meracik dan minum jamu telah tergambar dalam relief Candi Borobudur (825 M) pada Kamadatu dan Rupadatu. Selain itu, menurutnya, jejak serupa dapat ditemukan pada Candi Prambanan (850 M), Penataran (1200 M), Sukuh (1437 M), serta Prasasti Tegalwangi (masa kerajaan Hindu dan Buddha pasca abad ke-15), dan sumber-sumber lain.
Manuskrip yang tengah dikaji
Prof. Sahid menyebut sejumlah manuskrip Jawa kuno yang sedang dikerjakan tim PUI Javanologi UNS, di antaranya:
- Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi-Jampi Jawi Jilid II
- Serat Buk Jampi-Jampi Jawi
- Kawruh Bab Jampi Jawi
- Usada Keling
- Tenung Saptawara
- Serat Centhini
Ia menilai Serat Centhini, meskipun berisi banyak cerita sastra, memuat informasi mengenai jenis jamu dan kisah yang berkaitan dengan pemberdayaan jamu. Ia mencontohkan bagian pesta perkawinan yang memuat sesaji serta jamu kekuatan.
Prof. Sahid juga menyinggung Primbon Jampi Jawi yang menurutnya memiliki ciri menonjol yang tidak logis, berisi berbagai gugon tuhon yang dipercaya, namun tetap mengikuti kawruh kedokteran. Ia menyebut naskah tersebut memiliki 25 bab yang memuat 233 resep obat bagi orang sakit, serta memuat manfaat dan kegunaan rempah pada bab 26 hingga 42.
Kendala memahami resep masa lampau
Prof. Sahid menjelaskan, kendala utama dalam menggali informasi jamu masa lampau terletak pada peristilahan bahasa, bahan, takaran, dan cara pengolahan. Ia mencontohkan penulisan bahan “4 lembar” yang tidak menjelaskan lembar keberapa atau usia daun.
Ia juga menyoroti persoalan takaran tradisional seperti “setekem” yang dapat berbeda antara satu orang dan lainnya, maupun istilah lain seperti “sejungkut”, “sedimpit”, dan “senyari”. Dari sisi pengolahan, ia menyebut istilah seperti “dipipis” tanpa penjelasan tingkat kehalusan yang dimaksud.
Langkah pengembangan yang diupayakan
Dalam konteks pemanfaatan pengetahuan dari manuskrip, Prof. Sahid menyampaikan sejumlah upaya yang dilakukan Javanologi UNS terkait rempah dalam manuskrip Jawa kuno. Upaya tersebut meliputi modernisasi produk jamu dan perluasan keragaman, penguatan penggunaan rempah sebagai jamu atau obat tradisional dalam pelayanan pengobatan formal melalui saintifikasi jamu, serta pengembangan penelitian filologis manuskrip tentang jamu atau obat tradisional hingga bentuk produk digital.
Selain itu, ia menyebut pengenalan obat sejak dini melalui berbagai media untuk anak-anak Indonesia serta sosialisasi jamu bagi masyarakat secara luas.

