Guru Besar Ilmu Konsumen IPB University, Ujang Sumarwan, menganalisis fenomena “warteg fancy” yang belakangan marak bermunculan di berbagai kota besar. Menurutnya, inovasi tersebut merupakan respons kreatif pelaku usaha kuliner terhadap perubahan selera pasar.
Ujang menilai tren ini dipicu gabungan berbagai faktor, mulai dari pemenuhan kebutuhan fungsional hingga dorongan konsumen untuk mendapatkan citra sosial yang lebih tinggi. Desain tempat yang lebih estetis serta peningkatan layanan menjadi pembeda utama dibandingkan warteg konvensional.
Ia menjelaskan bahwa konsumen saat ini, terutama dari kalangan Generasi Z, cenderung mempertimbangkan kenyamanan tempat selain rasa makanan. Pengalaman makan yang ditawarkan ikut menentukan pilihan lokasi kuliner.
“Konsumen akan membandingkan berbagai pilihan tempat makan. Mereka mencari sesuatu yang baru, nyaman, dan tetap terjangkau. Di sinilah terjadi pertemuan antara kebutuhan konsumen dan strategi pelaku usaha,” ujar Ujang.
Terkait harga yang lebih tinggi dibandingkan warteg biasa, Ujang menilai hal itu wajar dalam perspektif bisnis. Dalam persepsi pelanggan, harga yang lebih mahal kerap diasosiasikan dengan kualitas produk dan layanan yang lebih baik.
Ujang menambahkan, inovasi fisik seperti desain interior dan inovasi nonfisik seperti keramahan pelayanan menjadi kunci untuk menarik minat pelanggan. Namun, keberlanjutan konsep warteg fancy bergantung pada konsistensi pelaku usaha dalam menjaga respons positif pasar.
Ia juga menegaskan enam bulan pertama merupakan periode krusial untuk menentukan apakah sebuah unit bisnis mampu bertahan atau hanya menjadi tren sesaat. Pelaku usaha, kata dia, perlu terus beradaptasi karena siklus hidup tren di industri makanan dan minuman berlangsung sangat cepat.

