Penanganan gizi yang tepat dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan performa atlet. Hal itu disampaikan Sekretaris PD Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), Dr. Yulia Fitri, SST., Dietisien, M.Biomed., AIFO, saat menjadi narasumber dialog Ngobras RRI Banda Aceh, Selasa (5/5/2026).
Dr. Yulia menjelaskan, ahli gizi klinis berfokus pada penanganan kondisi medis atlet melalui terapi gizi yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Pendekatan ini bertujuan membantu memperbaiki status kesehatan atlet yang mengalami gangguan tertentu, seperti anemia, gastritis, maupun penyakit metabolik lainnya.
“Ahli gizi klinis itu berorientasi pada penanganan kondisi medis, misalnya ada atlet yang anemia atau mengalami gangguan lambung, maka setelah diperiksa dokter, ahli gizi akan memberikan edukasi dan mengatur pola makan yang sesuai hingga kondisi atlet membaik,” ujar Dr. Yulia.
Dalam proses penanganan atlet, lanjutnya, ahli gizi tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan dokter olahraga, tim medis, hingga pihak katering agar kebutuhan makanan atlet dapat terpenuhi sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
Sementara itu, sport nutritionist disebut lebih berfokus pada individu yang sehat dan aktif secara fisik. Perannya diarahkan untuk membantu meningkatkan performa, stamina, dan kebugaran melalui pengaturan energi, zat gizi, hidrasi, serta pola konsumsi yang tepat.
Dr. Yulia menegaskan, kedua peran tersebut saling melengkapi dalam mendukung prestasi atlet. Menurutnya, penanganan kesehatan dan pengaturan nutrisi yang terencana menjadi kunci agar atlet tetap sehat, bugar, serta mampu tampil optimal saat latihan maupun kompetisi.

