BERITA TERKINI
Gizi Anak Masih Jadi Tantangan, Program JAPFA for Kids Catat Perbaikan Status Gizi Siswa

Gizi Anak Masih Jadi Tantangan, Program JAPFA for Kids Catat Perbaikan Status Gizi Siswa

Persoalan gizi anak masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Temuan serupa juga terlihat dalam pelaksanaan program JAPFA for Kids yang dijalankan PT Japfa Comfeed Indonesia di sejumlah daerah. Data internal JAPFA tahun 2024 mencatat sekitar 10,1 persen siswa di tujuh lokasi program masih mengalami kondisi malagizi.

Untuk merespons kondisi tersebut, JAPFA memperkuat edukasi dan intervensi gizi melalui program JAPFA for Kids yang telah berjalan selama 18 tahun. Hingga 2025, program ini disebut telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.

Program JAPFA for Kids juga dilaksanakan di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dengan melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan program tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak secara berkelanjutan. “Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” ujar Rachmat, Selasa, 19 Mei 2026.

Menurut data program, terdapat perbaikan status gizi pada sebagian peserta. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk meningkat menjadi gizi baik atau setara 51,5 persen. Pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5 persen.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan program dijalankan melalui strategi terintegrasi, termasuk pemberian protein hewani dan edukasi perilaku hidup sehat di sekolah. “Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA,” ujar Retno.

Selain itu, program dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala untuk memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten.

Pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Sandra Fikawati, menilai edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. “Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, serta pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini,” ujar Sandra.

Melalui AKJJ 2026, JAPFA berharap semakin banyak karya jurnalistik yang dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak. Rachmat menambahkan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mendorong perubahan yang berkelanjutan. “Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Kami berharap sinergi antara dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa,” kata Rachmat.