Generasi Muda Ramai-ramai Buka Usaha Kuliner, Namun 80 Persen Tumbang: Pelajaran Pahit di Balik Tren yang Manis

Generasi Muda Ramai-ramai Buka Usaha Kuliner, Namun 80 Persen Tumbang: Pelajaran Pahit di Balik Tren yang Manis

Mengapa Isu Ini Mendadak Tren

Di Google Trends, isu “bisnis kuliner anak muda” mencuat karena menyentuh mimpi yang paling dekat dengan keseharian: makan, jualan, lalu berharap hidup membaik.

Judul yang menyebut “generasi muda mendominasi” terdengar seperti kabar baik.

Namun kalimat “80 persen gagal” memukul harapan itu dengan angka yang dingin, dan justru itulah yang membuat orang berhenti menggulir layar.

-000-

Berita ini menjadi tren, pertama, karena kuliner adalah pintu masuk wirausaha yang terlihat paling mudah.

Banyak orang merasa cukup punya resep, kemasan menarik, dan akun media sosial untuk memulai.

Ketika realitas menyebut hanya satu dari lima yang bertahan tiga tahun, publik merasa sedang diingatkan, bahkan diperingatkan.

-000-

Kedua, isu ini menjadi tren karena ia memantulkan kecemasan generasi muda tentang masa depan kerja.

Di tengah kompetisi kerja, wirausaha sering dipahami sebagai jalan keluar.

Angka kegagalan yang tinggi membuat pertanyaan lama kembali: apakah “berani mulai” sudah cukup.

-000-

Ketiga, isu ini menjadi tren karena hadirnya narasi “rahasia bertahan menurut ahli” memberi janji solusi.

Publik menyukai jawaban praktis, tetapi juga mencari kerangka berpikir.

Program edukasi yang disebut dalam berita memberi kesan ada jalan belajar yang lebih terstruktur.

-000-

Di titik ini, tren bukan sekadar soal makanan.

Tren adalah soal mobilitas sosial, martabat kerja, dan bagaimana sebuah negara menyiapkan warganya menghadapi pasar yang semakin ketat.

-000-

Fakta Utama: Dominasi Anak Muda dan Tingkat Gugur yang Tinggi

Berita menyebut data BPS dan McKinsey Food Service Report 2024.

Generasi muda menyumbang lebih dari 50 persen wirausahawan baru di sektor kuliner.

Angka itu menegaskan pergeseran energi ekonomi ke tangan kelompok usia yang lebih muda.

-000-

Namun, berita yang sama menekankan sisi lain.

Hanya satu dari lima bisnis baru yang mampu bertahan lebih dari tiga tahun.

Penyebab utamanya disebut jelas: kurangnya pemahaman atas operasional industri kuliner yang kompleks dan kompetitif.

-000-

Di sinilah paradoksnya.

Pintu masuk terlihat rendah, tetapi lantai di dalamnya licin.

Orang bisa mulai cepat, namun bertahan menuntut disiplin yang sering tak terlihat di konten media sosial.

-000-

Operasional: Bagian yang Sering Tak Terekam Kamera

Operasional kuliner bukan hanya soal rasa.

Ia mencakup konsistensi produksi, pengendalian biaya, manajemen stok, kebersihan, kecepatan layanan, dan ketahanan saat permintaan naik turun.

Berita menyebut kompleksitas ini sebagai titik lemah banyak usaha baru.

-000-

Di permukaan, banyak bisnis tampak hidup.

Antrean di hari pembukaan terlihat seperti validasi.

Namun operasional adalah maraton, bukan sprint.

Ia menguji pengusaha pada hari-hari sepi, saat bahan baku naik, atau ketika tim kelelahan.

-000-

Dalam bahasa yang lebih konseptual, operasional adalah “kemampuan mengeksekusi berulang-ulang dengan kualitas yang sama”.

Bisnis kuliner yang bertahan biasanya menang bukan karena ide paling unik.

Mereka menang karena sistem yang paling rapi.

-000-

Edukasi sebagai Respons: Kolaborasa dan EPIC

Berita menempatkan edukasi sebagai respons terhadap tingginya angka kegagalan.

Ellenka menggelar program Kolaborasa sejak pertengahan 2024.

Rangkaian ini disebut menjangkau ratusan UMKM di berbagai kota.

-000-

Kota yang disebut meliputi Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Tangerang.

Puncaknya berlangsung 9 Desember 2025 di Malang.

Di sana, Ellenka menggandeng Schoko, BOLA Deli, dan Sriboga.

-000-

Acara Malang itu juga menghadirkan Chef Angie Wiranata.

Disebut ada 110 peserta, dari pelaku usaha rumah tangga, UMKM, hingga business starter.

Fokusnya: prediksi tren kuliner 2026 dan strategi operasional yang efisien.

-000-

Chef Angie mendemonstrasikan “Mochi Matcha”.

Contoh ini penting sebagai gambaran konkret tentang inovasi produk.

Inovasi di sini bukan sekadar rasa baru, tetapi upaya membaca selera pasar yang bergerak cepat.

-000-

Selain UMKM, Ellenka memperluas program ke pendidikan melalui EPIC.

EPIC disebut memberi edukasi industri dan kewirausahaan kepada pelajar.

Program ini hadir di SMK Santa Maria pada 20 Januari 2026.

-000-

EPIC juga hadir di SMKN 57 Jakarta pada 22 Januari 2026.

Dalam rangkaian itu, William Wongso disebut turut berbagi pengalaman.

Aktivitasnya tidak hanya teori, tetapi juga praktik di dapur profesional.

-000-

Mengapa Banyak yang Gagal, Padahal Pasarnya Besar

Angka “80 persen gagal” sering disalahpahami sebagai vonis.

Padahal ia bisa dibaca sebagai peta risiko.

Jika penyebabnya operasional, maka titik intervensinya adalah pengetahuan, kebiasaan, dan standar kerja.

-000-

Bisnis kuliner berada di persimpangan antara kreativitas dan ketelitian.

Orang mudah jatuh cinta pada kreativitas.

Namun ketelitian sering dianggap membosankan, padahal ia menentukan umur usaha.

-000-

Di sisi lain, kompetisi kuliner bersifat hiper-lokal.

Dalam satu jalan, bisa ada banyak produk serupa.

Kesalahan kecil pada pelayanan atau kualitas dapat membuat pelanggan pindah tanpa drama.

-000-

Berita juga menyinggung standar pasar global.

Ini mengisyaratkan bahwa selera konsumen berubah mengikuti paparan luas.

Harapan terhadap kebersihan, konsistensi, dan pengalaman makan terus naik.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: UMKM, Produktivitas, dan Ketahanan Ekonomi

Isu ini menyentuh UMKM, tulang punggung ekonomi yang sering disebut dalam diskursus publik.

Ketika banyak usaha kuliner lahir, itu pertanda energi kewirausahaan hidup.

Namun ketika banyak pula yang gugur, ada biaya sosial yang ikut mengalir.

-000-

Biaya itu bisa berupa tabungan keluarga yang habis, utang kecil yang menumpuk, atau kelelahan mental karena merasa “gagal”.

Karena itu, kegagalan massal bukan sekadar statistik bisnis.

Ia menyangkut kesehatan ekonomi rumah tangga.

-000-

Di tingkat nasional, isu ini berkaitan dengan produktivitas.

Usaha yang bertahan cenderung menciptakan pekerjaan yang lebih stabil.

Usaha yang tumbang cepat menciptakan siklus kerja yang rapuh.

-000-

Isu ini juga berkaitan dengan kualitas pendidikan vokasi.

EPIC yang masuk sekolah memberi sinyal bahwa industri melihat kebutuhan menyambungkan kelas dengan dapur nyata.

Jika keterampilan operasional diajarkan lebih dini, risiko kegagalan bisa ditekan.

-000-

Riset yang Relevan: Membaca Kegagalan sebagai Kesenjangan Kapabilitas

Berita mengacu pada BPS dan McKinsey Food Service Report 2024.

Dua rujukan ini memberi legitimasi pada dua hal.

Pertama, dominasi generasi muda sebagai pengusaha baru.

Kedua, rapuhnya daya tahan bisnis baru.

-000-

Jika dibaca secara konseptual, kegagalan sering muncul saat “aspirasi lebih cepat daripada kapabilitas”.

Aspirasi didorong tren, konten, dan cerita sukses.

Kapabilitas dibangun lewat latihan, sistem, dan pengalaman menghadapi masalah berulang.

-000-

Di sektor kuliner, kapabilitas itu terutama operasional.

Berita menekankan kebutuhan logika bisnis dan keterampilan teknis.

Ini sejalan dengan gagasan bahwa usaha kecil butuh literasi manajerial, bukan hanya keberanian.

-000-

Program Kolaborasa dan EPIC dapat dibaca sebagai upaya menutup kesenjangan tersebut.

Edukasi tren memberi arah inovasi.

Edukasi operasional memberi pagar agar inovasi tidak membakar modal.

-000-

Referensi Luar Negeri: Gelombang Serupa di Industri Makanan

Fenomena “ramai buka, banyak tutup” bukan khas Indonesia.

Di banyak negara, bisnis makanan juga dikenal berisiko tinggi.

Tekanan biaya, tenaga kerja, dan konsistensi kualitas menjadi ujian universal.

-000-

Di kota-kota besar dunia, gelombang usaha makanan sering dipicu tren media sosial.

Produk viral membuat permintaan melonjak cepat.

Namun tanpa sistem, lonjakan itu justru mempercepat kerusakan layanan dan reputasi.

-000-

Ada pula pola lain yang mirip.

Banyak negara mendorong pelatihan kewirausahaan kuliner melalui inkubator, pelatihan higienitas, dan standar dapur.

Tujuannya sama: membuat bisnis kecil tidak hanya lahir, tetapi juga bertahan.

-000-

Kesamaan global ini penting sebagai cermin.

Bahwa tantangan bukan semata “anak muda kurang tahan banting”.

Sering kali masalahnya struktural: akses pengetahuan, pendampingan, dan standar operasional yang jelas.

-000-

Analisis: Antara Mimpi, Pasar, dan Disiplin yang Sunyi

Anak muda masuk kuliner karena ada sesuatu yang personal di sana.

Makanan adalah identitas, memori, dan kebanggaan.

Ketika produk disukai, pengusaha merasa diterima.

-000-

Namun pasar tidak bekerja dengan bahasa perasaan.

Pasar bekerja dengan bahasa pengulangan.

Apakah rasa sama setiap hari.

Apakah porsi konsisten.

Apakah biaya terkendali.

-000-

Di sinilah disiplin yang sunyi mengambil peran.

Ia jarang viral.

Ia tidak selalu tampak di foto produk.

Tetapi ia menentukan apakah usaha bertahan melewati tahun ketiga, sebagaimana disorot berita.

-000-

Program edukasi yang disebut dalam berita memberi pesan penting.

Bahwa industri mulai memandang literasi operasional sebagai kebutuhan publik.

Ini bukan sekadar urusan perusahaan, melainkan ekosistem.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, perlakukan angka kegagalan sebagai bahan belajar, bukan alat menakut-nakuti.

Jika satu dari lima bertahan, maka empat lainnya menyimpan pelajaran tentang apa yang tidak bekerja.

Budaya berbagi pelajaran perlu diperkuat.

-000-

Kedua, dorong pendidikan operasional sebagai kompetensi inti.

Berita sudah menunjukkan contoh lewat Kolaborasa dan EPIC.

Pola ini bisa diperluas: pelatihan manajemen stok, standar kebersihan, alur kerja dapur, dan dasar pembukuan.

-000-

Ketiga, perkuat jembatan antara sekolah vokasi dan industri.

EPIC yang masuk SMK memperlihatkan model kolaborasi.

Jika siswa memahami standar industri sejak awal, transisi ke dunia kerja dan wirausaha menjadi lebih realistis.

-000-

Keempat, bagi calon pengusaha muda, ubah pertanyaan dari “produk apa yang viral” menjadi “sistem apa yang sanggup saya jalankan tiap hari”.

Inovasi tetap penting.

Namun inovasi yang bertahan biasanya lahir dari sistem yang stabil.

-000-

Kelima, bagi konsumen dan publik, bersikaplah adil.

Dukung usaha kecil yang berusaha menjaga kualitas dan kebersihan.

Umpan balik yang jujur, bukan hujatan, membantu usaha bertumbuh.

-000-

Penutup: Bertahan adalah Bentuk Kecerdasan

Tren generasi muda di bisnis kuliner menunjukkan Indonesia kaya energi dan keberanian.

Namun angka kegagalan mengingatkan bahwa keberanian tanpa pengetahuan mudah berubah menjadi luka.

Karena itu, edukasi operasional menjadi kunci, sebagaimana disorot berita.

-000-

Jika kita ingin UMKM naik kelas, maka yang harus dibangun bukan hanya semangat memulai.

Yang harus dibangun adalah kemampuan bertahan.

Dan bertahan, dalam dunia yang bising oleh tren, sering kali adalah bentuk kecerdasan paling sunyi.

-000-

“Keberhasilan bukan milik mereka yang bergerak paling cepat, melainkan mereka yang paling tekun memperbaiki diri.”