BERITA TERKINI
Future Menus 2026: Empat Tren Kuliner dan Peran AI dalam Keputusan Bisnis Industri F&B

Future Menus 2026: Empat Tren Kuliner dan Peran AI dalam Keputusan Bisnis Industri F&B

Program Future Menus 2026 yang digelar Unilever Food Solutions (UFS) pada 2 Juli di Hanoi mengangkat tema “Membuka Jalan Menuju Tren – Memimpin Masa Depan”. Dalam forum ini, para ahli memaparkan tren kuliner yang diperkirakan akan mendorong pasar global dalam beberapa tahun mendatang, sekaligus membahas cara industri makanan dan minuman menilai tren, mengambil keputusan, dan mencari peluang pertumbuhan di tengah persaingan yang kian ketat.

Wawasan praktis dibagikan oleh koki, pemilik restoran, pakar, dan pelaku usaha F&B dari wilayah utara. Diskusi berfokus pada pertanyaan utama: bagaimana perubahan pasar dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif yang nyata.

Para ahli memperkirakan ada empat tren yang akan membentuk pasar makanan global dalam waktu dekat. Pertama, meningkatnya daya tarik makanan jalanan yang mencerminkan dorongan untuk mengangkat hidangan yang familiar melalui teknik dan pengalaman memasak yang lebih modern. Kedua, tren kuliner lintas batas yang menunjukkan semakin kuatnya percampuran antarbudaya kuliner. Ketiga, tren menuju keunggulan lokal, yakni kecenderungan memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai dasar kreativitas, di mana bahan yang akrab dikembangkan menjadi pengalaman baru dengan sentuhan personal. Keempat, tren menu yang dipersonalisasi, seiring meningkatnya permintaan pelanggan akan pengalaman bersantap yang lebih fleksibel dan sesuai preferensi.

Alih-alih diperlakukan sebagai tren sesaat, empat arah perkembangan tersebut ditempatkan dalam konteks operasional industri F&B. Tren-tren itu diposisikan sebagai “titik acuan” untuk membantu pelaku usaha mengidentifikasi peluang pertumbuhan secara lebih terarah.

Salah satu topik yang banyak menarik perhatian adalah peran kecerdasan buatan (AI) dalam industri makanan dan minuman. Dalam pemaparan di Future Menus 2026, AI tidak diperkenalkan sebagai teknologi untuk sekadar demonstrasi, melainkan sebagai alat pendukung pengambilan keputusan. AI disebut dapat membantu koki dan restoran menganalisis data pelanggan, menilai tren, mengoptimalkan menu, serta mempersingkat proses pengujian.

Dalam situasi ketika setiap keputusan menu dapat berdampak langsung pada kinerja bisnis, AI dinilai membuka pendekatan baru yang menggabungkan data dengan pengalaman operasional untuk menghasilkan pilihan yang lebih akurat.

Para ahli juga menyoroti tantangan praktis yang dihadapi industri. Konsumen dinilai ingin mencoba hal baru, namun enggan mengambil risiko terhadap rasa. Konsumen Vietnam pada 2026 disebut lebih terbuka pada pengalaman kuliner baru, tetapi tidak otomatis mudah tertarik pada hidangan mewah atau yang terlalu kreatif.

Di balik konsep “makan untuk pengalaman”, terdapat pola pikir yang dinilai sangat praktis: makanan tetap harus lezat, sesuai selera, sepadan dengan harga, dan tidak membuat pelanggan merasa seperti sedang “berjudi” dengan pilihan mereka. Karena itu, tren seperti peningkatan kualitas makanan jalanan atau masakan fusi lintas negara dapat memicu rasa ingin tahu, namun juga berpotensi memunculkan skeptisisme apabila kehilangan cita rasa yang familiar atau tidak menawarkan nilai yang sebanding dengan harga yang lebih tinggi.

CEO Unilever Food Solutions Vietnam, Nguyen Xuan Huy, menyatakan keberhasilan industri F&B saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengadopsi tren, melainkan oleh kemampuan memahami apa yang benar-benar sesuai dengan pelanggan dan menerjemahkannya menjadi keputusan operasional yang efektif. Menurutnya, hal itu sejalan dengan semangat yang ingin dicapai melalui Future Menus 2026.

Di tengah pasar yang semakin bergejolak, informasi yang dibagikan dalam acara ini diharapkan dapat memberi landasan yang lebih kuat bagi komunitas F&B untuk menilai tren, mengembangkan menu, dan mengambil keputusan yang selaras dengan model bisnis masing-masing.