Peran perfilman, khususnya film bertema sejarah dan perang revolusioner, menjadi sorotan dalam Konferensi Nasional yang merangkum kinerja Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam tahun 2025, periode 2021–2025, sekaligus memaparkan tugas utama untuk 2026. Dalam forum tersebut, film dinilai sebagai salah satu saluran penting untuk membentuk karakter, menumbuhkan cita-cita, dan menjaga identitas budaya Vietnam.
Mewakili Departemen Politik Umum Tentara Rakyat Vietnam, Kolonel Nguyen Thu Dung—Direktur Studio Film Tentara Rakyat sekaligus Wakil Ketua Komite Pengarah produksi film fitur Red Rain—menyampaikan bahwa Vietnam memiliki sejarah panjang yang ditempa melalui ribuan tahun pembangunan bangsa dan pertahanan nasional. Ia menekankan nilai-nilai inti seperti patriotisme, persatuan nasional, keteguhan, kemanusiaan, dan kesetiaan sebagai unsur yang membentuk “jiwa Vietnam” dalam perjalanan sejarah.
Dalam konteks itu, sinema dipandang tidak semata sebagai bentuk seni atau hiburan. Menurut Nguyen Thu Dung, film juga menjadi cara khusus untuk melindungi, menyebarkan, dan mempromosikan nilai tradisional, sekaligus berkontribusi memperkuat fondasi spiritual bagi kader, prajurit, dan masyarakat.
Ia menilai film sejarah dan perang revolusioner memiliki peran khas dalam merekonstruksi masa lalu dan menghidupkan kembali babak-babak penting sejarah bangsa. Film-film semacam ini, lanjutnya, membantu publik memahami sejarah secara lebih tepat dan mendalam, serta menjadi jembatan emosional agar generasi kini dapat lebih menghargai nilai masa kini dan merasakan keberanian serta kualitas mulia rakyat Vietnam. Nguyen Thu Dung juga menegaskan tema angkatan bersenjata dan perang revolusioner memiliki daya tarik yang kuat, terutama bagi penonton muda.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat adanya perubahan pendekatan dalam genre tersebut. Film sejarah tidak lagi dipandang sebagai karya pesanan yang selesai diproduksi lalu disimpan, melainkan terus dicari bentuk penyajian baru melalui pembaruan cara bertutur dan bahasa sinematik. Sejumlah judul yang disebutkan dalam konferensi antara lain The Legend of Quan Tien, Red Dawn, Peach, Pho, and Piano, serta Underground Tunnels - The Sun in the Darkness, yang dinilai menunjukkan upaya seniman mendekatkan sejarah dengan kehidupan kontemporer.
Salah satu contoh yang disorot adalah film Red Rain produksi Studio Film Tentara Rakyat. Film ini mengangkat kisah 81 hari 81 malam pertempuran sengit di Benteng Quang Tri. Berdasarkan informasi dari Departemen Politik Umum Tentara Rakyat Vietnam, Red Rain menarik lebih dari 8,3 juta penonton di bioskop, ditonton jutaan kali di platform digital, serta diputar di ratusan titik pemutaran keliling di seluruh negeri. Film itu juga dilaporkan meraih pendapatan lebih dari 700 miliar VND dan disebut masuk jajaran film terlaris di dunia pada 2025.
Menanggapi capaian tersebut, Nguyen Thu Dung menyebut kesuksesan film bukan kebetulan, melainkan hasil proses produksi yang terukur dan teliti, mulai dari survei, penelitian dokumen sejarah, bertemu saksi, hingga pemanfaatan teknologi modern. Ia menambahkan, film tersebut berpegang pada arah ideologis yang dinilai tepat, membangkitkan patriotisme, menghormati pengorbanan prajurit, serta menyampaikan pesan tentang tanggung jawab dan aspirasi berkontribusi bagi generasi muda. Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan tema perang revolusioner dapat menghasilkan dampak besar dari sisi ideologi, seni, dan komunikasi apabila didukung investasi yang memadai.
Dalam konferensi yang sama, Nguyen Thu Dung menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan agar film sejarah tetap berperan kuat di ranah ideologi dan budaya. Ia menilai penggarapan tema sejarah perlu perspektif segar yang menggugah, pendalaman psikologi tokoh, akurasi sejarah, serta penguatan emosi agar tercipta empati alami dengan penonton, terutama kalangan muda.
Selain menghidupkan kembali masa lalu, ia juga menyoroti tanggung jawab sinema untuk menggambarkan citra “prajurit Paman Ho” di era baru: prajurit dengan keteguhan politik, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesiapsiagaan menghadapi bencana dan epidemi, keterlibatan dalam operasi penyelamatan, serta partisipasi dalam pasukan penjaga perdamaian internasional. Menurutnya, penggambaran prajurit dengan “semangat zaman” dapat membuka kemungkinan kreatif baru dan memperluas daya tarik bagi publik.
Menatap 2026 hingga 2045, Nguyen Thu Dung menyatakan perfilman Vietnam, termasuk Studio Film Tentara Rakyat, menghadapi peluang baru seiring penerapan Strategi Pengembangan Industri Kebudayaan Vietnam hingga 2030 dengan visi 2045. Ia menyebut salah satu tugas utama adalah mendorong lahirnya lebih banyak film bernilai ideologis dan artistik tinggi yang sejalan dengan perkembangan kawasan dan dunia.
Dalam lanskap media multi-platform, ia juga menekankan pentingnya perhatian pada kerja komunikasi agar film dapat menjangkau publik lebih luas. Menurutnya, sebuah film baru benar-benar memenuhi nilainya ketika sampai kepada khalayak, menyebarkan pesan positif, dan berkontribusi memperkuat fondasi ideologis di tengah masyarakat. Karena itu, upaya menghubungkan serta mendekatkan citra tentara dan nilai-nilai positif militer kepada publik dinilai tidak bisa diabaikan.
Di akhir pemaparannya, Nguyen Thu Dung menegaskan film sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan sumber daya penting yang dapat membimbing masa kini dan masa depan. Ia menyatakan keyakinan bahwa dengan perhatian dan arahan dari Partai, Negara, dan Komisi Militer Pusat, serta kerja kreatif para seniman, karya sinema bermutu tinggi dapat terus lahir dan berkontribusi menyebarkan keberanian, kecerdasan, dan budaya Vietnam di era baru.

